Jumat, 08 Juni 2007

Surat cinta Khomeini muda kepada istri terkasih

Surat cinta Khomeini muda kepada istri terkasih

Dear kasihku...

Kupersembahkan jiwaku untukmu...

Saat ini, ketika aku diuji berpisah dari anak-anakku tersayang dan penguat hatiku, aku kemudian teringat padamu dan keindahan wajahmu yang terlukis di dalam cermin hatiku.

Kasihku...

Aku berharap semoga Allah senantiasa menjagamu dan memberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam lindungan-Nya. Sementara untukku, segala kesulitan yang ada telah berlalu. Alhamdulillah apa yang terjadi sampai saat ini adalah kebaikan dan sekarang aku tengah berada di kota Beirut yang asri.[1]

Sejujurnya, ketiadaanmu di sisiku membuat perjalanan ini menjadi sepi. Dengan hanya melihat kota dan laut yang ada merupakan pemandangan yang sedap dipandang mata. Aku tak dapat menghitung betapa besar keharuanku ketika mengingat kekasihku tidak di sisiku menemaniku menatap pemandangan indah yang meresap di kalbu.

Dar har hal, malam ini adalah malam kedua aku menanti kapal yang akan membawa kami. Sesuai dengan ketentuan yang ada, keesokan hari akan ada kapal yang bertolak dari sini ke Jeddah. Sayangnya, karena kami agak terlambat sampai di sini harus menanti kapal yang lain. Untuk saat ini apa yang harus dilakukan belum jelas. Aku berharap semoga Allah dengan belas kasih-Nya kepada kakek-kakekku yang suci, sebagaimana Ia mensukseskan perjalanan seluruh hamba-Nya untuk melaksanakan haji, memberikan kesempatan yang sama pula kepada kami.

Dari sisi ini aku agak sedikit sedih dan gelisah, namun Alhamdulillah kondisiku sehat bahkan semakin baik dan lebih meyakinkan. Sebuah perjalanan yang indah, sayangnya dan sekali lagi sayangnya, engkau tidak bersamaku di sisiku. Hatiku merindukan putramu (Sayyid Musthafa). Aku sangat berharap bahwa mereka berdua[2] senantiasa selamat dan bahagia di bawah lindungan dan bimbingan Allah swt.

Bila engkau menulis surat kepada ayahmu dan ibu serta nenekmu sampaikan salamku juga kepada mereka. Aku telah menyiapkan diriku menjadi pengganti ziarah kalian semua. Sampaikan juga salamku kepada adikmu Khanum Shams Afagh. Dan lewat adikmu sampaikan salamku kepada Agha Alavi. Sampaikan salamku kepada Khavar Sultan dan Rubabeh Sultan. Katakanlah kepada mereka tentang lembaran lain dari surat ini untuk disampaikan kepada Agha Syaikh Abdul Husein.

Semoga hari-hari kalian dilalui dengan panjang umur dan kemuliaan.

Duhai kasihku...

Belahan jiwaku...

Ruhullah saat ini bak gambar kosong yang sedang menanti keberangkatan yang tak kunjung datang.[3]

NB: Surat ini ditulis pada bulan Farvardin tahun 1312 H.S. (sekitar 73 tahun yang lalu) sambil menanti kelahiran putra keduanya.(Saleh L)

Sumber: http://baztab.com/news/40128.php



[1] . Keberadaan beliau di sana untuk menanti kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Arab Saudi guna melakukan ibadah haji.

[2] . Kata berdua maksudnya kepada Sayyid Musthafa dan anak laki beliau yang lain yang sampai saat surat ini ditulis belum lahir ke dunia. Beberapa hari setelah Imam menulis surat ini anak kedua beliau lahir dan diberi nama Ali. Anak kedua Imam ini karena terserang penyakit semasa kecilnya meninggal dunia.

[3] . Menjelaskan akan ketiadaan kapal yang akan membawa beliau dan rombongan ke Jeddah.

Kenangan Dokter Batini anggota Tim Medis Imam Khomeini

Kenangan Dokter Batini anggota Tim Medis Imam Khomeini

Pada awal-awal tahun 1362 (24 tahun yang lalu) berkumpul seluruh anggota tim medis Imam Khomeini dan sebagian dari pejabat tinggi negara Iran berkumpul dan diketuai oleh Ahmad Khomeini anak beliau. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai kondisi kesehatan Imam Khomeini dikaitkan dengan situasi politik, keamanan dan kesehatan imam Khomeini. Akhirnya diputuskan untuk mendirikan sebuah pusat kesehatan modern di dekat tempat tinggal beliau. Namun, karena semua tahu bagaimana Imam menyukai hidup sederhana, masalah ini tidak diberi tahu kepada beliau. Pembangunan pusat kesehatan ini dilakukan tanpa sepengetahuan beliau. Setahun berikutnya pusat kesehatan ini selesai dibangun. Semua fasilitas telah dilengkapi baik dari sisi peralatan sampai tenaga medisnya.

Pada tanggal 16 Farvardin 1365 Imam Khomeini sempat kena serangan jantung dan untuk beberapa saat kerja jantungnya berhenti. Keberadaan pusat kesehatan dan tenaga medis yang siap setiap saat mampu memberikan pertolongan kepada Imam Khomeini dan jantungnya kembali berdetak. Setelah keadaannya berangsur-angsur pulih, namun masih dalam perawatan semua merasa gembira. Tim dokter kembali dan beliau langsung ditempatkan di ruang rawat inap.

Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, setiap harinya Ahmad, anaknya, bersama keluarganya terkadang sampai tiga kali mengunjungi beliau. Hal ini membuat Imam Khomeini membayangkan rumah sakit tempat ia dirawat adalah rumah sakit jantung Syahid Raja’i yang berada di kawasan Vali Asr. Oleh karenanya ia mewanti-wanti kepada Ahmad agar tidak sering-sering membawa mereka menjenguknya karena jarak yang jauh akan merepotkan dan melelahkan mereka. Cukup dalam seminggu sekali mereka datang menjengukku. Untuk pertama kalinya Ahmad putra beliau menjelaskan hal yang sesungguhnya. Rumah sakit ini hanya berjarak 20 langkah dari rumah mereka. Itulah mengapa mereka sering datang menjenguknya.

Imam Khomeini dirawat di sana selama dua bulan. Melihat kondisi yang cukup sulit apa lagi waktu itu perang masih berkecamuk, diusahakan sepenuhnya agar kondisi kesehatan Imam Khomeini tidak diekspos agar musuh tidak memanfaatkannya untuk melemahkan semangat juang tentara dan masyarakat Iran. Setelah kesembuhannya, Imam Khomeini dapat menerima apa yang dilakukan oleh para pejabat dan tim medisnya yang tidak memberitakan hal yang sebenarnya. Pada waktu itulah, Imam Khomeini dapat menerima alasan pembangunan rumah sakit itu. Namun, Imam Khomeini tetap memberikan syarat agar rumah sakit ini nantinya tidak dikhususkan buat dirinya, tapi masyarakat biasa juga dapat memanfaatkannya, terutama rakyat kalangan miskin. Syarat yang diajukannya dilaksanakan semasa hidupnya.

Semasa Imam Khomeini dirawat di rumah sakit, ia meminta agar tempat tidurnya menghadap kiblat. Itulah mengapa dalam pengambilan gambar yang selama ini direkam selama beliau dirawat tempat tidurnya berada di tengah-tengah ruangan. Alasannya, beliau menginginkan tempat tidurnya senantiasa menghadap kiblat.

Pada tanggal 7 Khurdad 1368 di hari ke enam setelah operasi, kondisi Imam Khomeini secara umum sudah lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Beliau meminta agar dibawakan televisi. Setelah televisi diletakkan di ruangannya, beliau asyik menonton berita. Di berita itu disiarkan operasi dirinya, begitu juga ditayangkan salat malamnya sebelum dioperasi. Imam Khomeini menunjukkan rasa tidak sukanya melihat tayangan televisi tentang dirinya. Beliau berkeyakinan saat melakukan ibadah, hendaknya dalam kondisi sepi. Tidak ada orang yang boleh hadir ketika ia sedang beribadah, apa lagi sampai ada yang berani mengambil gambarnya.

Setelah itu, Ahmad menemui beliau dan menjelaskan apa sesungguhnya yang terjadi. Katanya, film yang ditayangkan itu diambil dari kamera yang berada di luar ruangan kontrol. Karena masyarakat merasa khawatir dengan keadaan Anda, akhirnya gambar itu ditayangkan agar hilang kekhawatiran yang ada selama ini. Karena Ahmad anaknya membawa nama rakyat, beliau pun menerimanya dan tidak lagi mempertanyakannya. [Saleh L]

Sumber: Koran mingguan Partosokhan, nomor 380, 30 Mei 2007.

Ibu rumah tangga profesi tak kenal cuti, apa lagi digaji!

Ibu rumah tangga profesi tak kenal cuti, apa lagi digaji!

Emi Nur Hayati Ma’sum Said

Kebanyakan masyarakat memandang bahwa status ibu rumah tangga berarti tinggal di dalam rumah, menganggur dan tidak punya kesibukan lain kecuali hanya mencuci pakaian, menyetrika, mencuci piring, menyapu dan mengepel rumah serta merawat anak. Menonton sinetron dan telenovela atau bahkan ngerumpi dengan tetangga sebelah dan arisan untuk mengisi waktu luang.

Ibu rumah tangga menurut sebagian wanita adalah kehilangan kesempatan kerja di luar rumah. Bila ditanya, “apa pekerjaan anda?” dengan tersipu malu menjawab, “Saya seorang ibu rumah tangga”.

Namun, masih ada yang mencoba melihat sisi-sisi positif dari status “ibu rumah tangga”. Menurut sebagian wanita menjadi ibu rumah tangga memiliki makna tersendiri. Ibu rumah tangga menurut mereka adalah belajar keterampilan lebih banyak, menambah pengetahuan, menambah wawasan dan pendidikan.

Ibu rumah tangga dengan kata lain adalah kesibukan dan pekerjaan, meskipun tidak ada yang namanya cuti. Segala jerih payahnya menjadi berharga ketika menyaksikan senyuman suaminya, ketika anaknya mengatakan “terima kasih ibu!”.

Anda termasuk kelompok yang mana?

Cara pandang seperti ini muncul karena status ibu rumah tangga tidak atau belum dibahas secara detil dan mendalam. Padahal kalau kita mau mengkajinya secara lebih dalam dan detil, kita akan menemukan bahwa status ibu rumah tangga merupakan himpunan dari berbagai macam keterampilan dan keahlian.

Kemampuan dan kecakapan yang dimiliki oleh seorang pakar tertentu yang dipelajarinya secara spesial dan membutuhkan waktu tersendiri, bisa dimiliki secara global dan ringkas oleh seorang ibu rumah tangga.

Seorang ibu rumah tangga bisa menjadi seorang “perawat” yang mengobati suami dan anak-anaknya sebagai pertolongan pertama sebelum dibawa ke dokter.

Seorang ibu rumah tangga sekaligus bisa menjadi seorang “pakar makanan” yang bisa menyediakan makanan sehat buat suami dan anak-anaknya. Ketika anak dalam masa pertumbuhan ia tahu makanan apa yang harus disiapkan untuk anaknya. Ketika suami atau anaknya sakit ia tahu makanan apa yang sesuai dengan kondisi penyakit dan penyembuhan suami dan anak-anaknya.

Pada saat yang sama seorang ibu rumah tangga bisa menjadi seorang “ekonom” yang mengatur perekonomian komunitas terkecil dalam sebuah masyarakat yang bernama keluarga. Ia mengatur dengan baik pengeluaran dan biaya hidupnya sesuai dengan pemasukan yang ada. Sehingga semua kebutuhannya bisa terpenuhi dengan tanpa harus berhutang untuk menambal kebutuhannya.

Manajemen perekonomian ini tidak hanya berpengaruh pada kehidupan keluarganya saja, akan tetapi sangat berpengaruh pada perekonomian negaranya. Salah satu sebab korupsi keuangan negara yang dilakukan oleh sebagian pejabat adalah karena tidak adanya manajemen perekonomian rumah tangga. Sehingga sengaja atau tidak mereka harus menggarong uang negara dan rakyat.

Seorang ibu rumah tangga pada saat yang sama bisa menjadi seorang “psikolog” yang mampu memenuhi kesehatan dan ketenangan jiwa anggota keluarganya termasuk suami dan anak-anaknya bahkan dirinya sendiri. Di zaman modern sepeti saat ini, yang diharapkan dari seorang ibu adalah perilakunya sesuai dengan ilmu psikologi. Ia bisa menghadapi suami dan anak-anaknya dengan baik dalam segala kondisi. Hal ini juga sangat berpengaruh pada kesehatan dan keselamatan jiwa masyarakat. Karena bila setiap anggota keluarga berjiwa sehat, maka dengan sendirinya masyarakat juga akan berjiwa sehat. Penyimpangan sosial yang terjadi saat ini, salah satunya adalah karena anak-anak kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bila ayah dan ibu sama-sama sibuk bekerja di luar rumah, dan ketika kembali ke rumah dalam keadaan lelah, maka mereka tidak bisa menghadapi anaknya dengan baik dan maksimal. Bila hal ini berlanjut, maka yang ada adalah anak mencari perlindungan di luar rumah. Sementara orang lain belum tentu mendidiknya bahkan merusak moral dan akidahnya.

Seorang ibu rumah tangga sekaligus bisa menjadi “pengajar dan pendidik” anak-anaknya. Seorang ibu rumah tangga yang berpendidikan, ia bisa membarengi anaknya belajar dan mengerjakan PR sekolahnya. Ia bisa mengajari anaknya membaca al-Quran, belajar fikih dan akidah yang sesuai dengan agama yang dianutnya. Ia bisa mengajari anaknya menjadi manusia yang sabar, gaul, dan beradab serta sifat-sifat mulia lainnya.

Nah, di sinilah nilai seorang ibu rumah tangga. Status sebagi ibu rumah tangga tidak lebih rendah dari status kerja di luar rumah bahkan bila dilihat dari sisi positifnya sebagaimana tersebut di atas, status ibu rumah tangga sangat mulia. Mengapa demikian?

Pertama; karena jerih payahnya tidak bisa dinilai dengan materi.

Kedua; jerih payahnya tidak berdasarkan pamrih.

Ketiga; jerih payahnya tidak disaksikan oleh orang lain sehingga tidak ada unsur riya dan ingin dipuji oleh orang lain.

Keempat; jerih payahnya menghasilkan generasi-generasi yang sehat.

Seorang ibu rumah tangga pada saat yang sama bisa menjadi “tailor dan designer” untuk anggota keluarganya. Ketika seorang ibu rumah tangga memiliki keterampilan menjahit dan membuat model pakaian, maka dengan leluasa ia bisa menjahit model baju yang diinginkannya. Dari satu sisi ia merasa puas dengan apa yang dibuatnya. Dari sisi lain ia bisa membantu perekonomian rumah tangga. Dekorasi rumah bisa dibuatnya semakin indah dengan selera yang dimilikinya. Dan hal ini akan lebih membuat anggota rumah tangga merasa nyaman dengan kondisi rumah.

Seorang ibu rumah tangga bisa sekaligus sebagai “salon kecantikan” untuk anak dan suaminya. Seorang ibu rumah tangga yang memiliki kemahiran mencukur rambut dan merias sangat membantu kerapian dan kecantikan anggota keluarganya. Selain ia bisa merapikan kondisi jasmani anggota keluarganya dengan mencukur rambut anak-anak dan suaminya, mereka bisa terhindar dari penularan penyakit yang mungkin terjadi di salon-salon kecantikan umum.

Namun, ada sebagian wanita yang tidak percaya diri dengan profesinya sebagai ibu rumah tangga. Sehingga ia memaksa dirinya bekerja di luar rumah di samping sebagai ibu rumah tangga untuk menemukan jati diri dan mengembalikan harga dirinya yang menurutnya telah hilang. Ini merupakan sebuah tekanan terhadap dirinya dari berbagai sisi. Ia merasa bangga ketika orang lain mengatakannya sebagai wanita karier. Padahal karena keegoisannya ia melakukan hal itu, dan bukan karena kecintaannya terhadap kariernya.

Menghidupkan kedudukan ibu rumah tangga

Kendati seorang ibu rumah tangga pekerjaannya yang tak kenal cuti dilakukan demi ketenangan dan ketenteraman suami dan anak-anaknya, sampai saat ini kedudukannya belum dikenal dengan baik.

Untuk menghidupkan kedudukan sebagai ibu rumah tangga ada beberapa kemungkinan:

Pertama; seorang ibu rumah tangga harus digaji, sehingga dengan leluasa ia bisa mempergunakan uangnya. Cara pandang semacam ini muncul karena anggapan bahwa status sebagai ibu rumah tangga adalah status yang rendah karena tidak ada gajinya. Segala jerih payah yang dilakukan tidak memiliki harga. Oleh karena itu jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kedudukan ibu rumah tangga dengan menggajinya.

Kedua; jerih payah seorang ibu rumah tangga tidak bisa dinilai dengan materi dan uang. Karena apa yang dilakukannya berdasarkan kasih sayang dan tujuan untuk memenuhi ketenangan dan ketenteraman anggota keluarganya. Ia merasa senang ketika bisa melakukan sesuatu yang baik untuk suami dan anak-anaknya.

Jerih payah seorang ibu rumah tangga tidak bisa dinilai dengan materi. Karena selain akan menjatuhkan nilai jerih payah itu sendiri, penilaian dengan materi akan membuat hubungan suami istri bukan lagi hubungan yang indah, melainkan hubungan yang kaku. Bagaimana mungkin seorang ibu rumah tangga akan rela mendengar ucapan suami atau anaknya “jika kamu mau mengerjakan, maka kamu akan mendapat upahnya”? Oleh karena itu, untuk menghidupkan kedudukan rumah tangga Islam menawarkan budaya tolong menolong dan pembagian kerja antara suami dan istri. Karena hal ini sangat menunjang keharmonisan sebuah rumah tangga. Seorang suami menjalankan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah, sementara istri menjalankan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah.

Alangkah baiknya bila masing-masing suami/istri saling tolong menolong dalam mengerjakan pekerjaan di luar atau dalam rumah sesuai dengan kondisi yang dimilikinya. Kalau dalam masyarakat kebanyakan, wanita senantiasa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dalam rumah, bukan berarti itu sebagai kewajibannya. Tetapi pekerjaan itu hanya bersifat mubah untuk dikerjakannya. Wanita yang rela mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dalam rumah yang lebih dikenal sebagai ibu rumah tangga, hanya sebuah kesepakatan antara suami dan istri untuk membagi pekerjaan mereka. Dan cara menghidupkan kedudukan ibu rumah tangga adalah dengan membudayakan saling tolong menolong antara suami dan istri dalam mengerjakan pekerjaan yang ada. Bila suami berharap istrinya menyambutnya dengan baik saat pulang dari kerja, maka istri juga berharap suaminya mengucapkan terima kasih atas jerih payahnya dalam rumah. Bila ini dipraktekkan oleh setiap keluarga, maka mereka akan lebih menikmati indahnya keharmonisan sebuah rumah tangga. Rumah tangga yang didasari dengan cinta dan kasih sayang akan lebih indah bila semua pekerjaan yang ada dikerjakan karena untuk mendapat ridha Allah swt dan karena kecintaan terhadap anggota keluarga dan kehidupannya.

Sejarah dan Strategi Dakwah Syiah Di Indonesia

Sejarah dan Strategi Dakwah Syiah Di Indonesia

Saleh Lapadi

Kita sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Sejarah adalah guru manusia. Sejarah memberikan data kepada kita untuk dapat melakukan evaluasi. Umat yang berhasil adalah umat yang senantiasa mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukannya. Bila ada kekurangan akan diperbaiki dan bila berlebihan akan dikurangi sehingga terjadi keseimbangan. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah saw mewanti-wanti kita agar senantiasa mengevaluasi diri kita sebelum Allah melakukannya nanti. Karena ketika Allah yang menghitung amal perbuatan kita, tidak akan ada yang tertinggal karena perhitungannya akan sangat teliti.

Perkembangan Syiah di Indonesia juga dapat dianalisa dengan pendekatan sejarah. Sejarah telah mencatat sejumlah keberhasilan dan kegagalan umat Islam. Munculnya mazhab-mazhab dalam Islam dan kelompok-kelompok dalam sebuah mazhab merupakan pelajaran yang sangat berharga. Sebagian dari mazhab atau kelompok itu kemudian hanya dapat dikenang dalam buku-buku sejarah. Mengetahui sebab-sebab kegagalan dan kemusnahan mereka dapat membantu perkembangan Syiah di Indonesia agar tetap eksis.

Sebagaimana sejarah mencatat sejumlah mazhab dan kelompok yang lenyap ditelan zaman, sejarah juga mencatat mazhab-mazhab dan kelompok-kelompok yang masih tetap eksis. Salah satunya adalah Syiah Imamiyah, Syiah yang meyakini 12 imam. Perkembangan Syiah berhutang budi pada Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra. Namun, dalam perkembangannya, ternyata dalam usaha penyebaran Syiah Imamiyah banyak kendala menghadang.

Tulisan ini mencoba melihat beberapa kendala yang menghalangi perkembangan dakwah Syiah di Indonesia dengan pendekatan pengalaman sejarah, sekaligus memberikan solusi alternatif. Tentunya, apa yang disoroti hanya mencakup beberapa hal yang dianggap penting oleh penulis.

1. Mudah dan Sederhana

Islam merupakan agama yang paling cepat tersebar di dunia. Salah satu penyebabnya adalah karena dari sisi pemikiran, Islam dapat diterima dan dipahami oleh semuah orang. Islam dianggap tidak kompleks dan sulit dari sisi pemikiran. Untuk memahamkan agama Islam kepada orang lain, tidak diperlukan sebuah usaha luar biasa. Itu dikarenakan Islam dapat dipahami oleh semua dengan mudah.

Pada saat yang sama, disiplin sejarah agama dan sejarah peradaban meyakini bahwa dalam perubahan sejarah, hal terpenting dan tersulit dilakukan adalah mengubah mazhab dan atau agama. Artinya, sangat mungkin sebuah masyarakat dijajah oleh bangsa lain dan harus berkorban dalam banyak hal, namun agama dan adat istiadat masih dapat mereka pertahankan. Ini menunjukkan bahwa mengubah keyakinan bukan hal yang mudah.

Di sisi lain, bila Islam ternyata mampu mengubah keyakinan dan agama orang lain atau masyarakat lain dengan cepat, maka hal yang sama harus diterapkan dalam Syiah. Di sinilah muncul pertanyaan besar, apakah Syiah yang kita dakwahkan saat ini dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat?

Jika kesederhanaan Islam dan Syiah menjadi sulit dan kompleks dengan penambahan masalah-masalah lain maka Syiah akan kehilangan kepopulerannya. Jika untuk menjadi seorang Syiah harus melewati serangkaian masalah terlebih dahulu dan kita tidak mampu menyederhanakannya, maka di masa yang akan datang kita akan mengalami masalah besar dalam mengembangkan dakwah Syiah di Indonesia.

Sebagai sebuah perbandingan lain, Mu’tazilah dapat menjadi sebuah contoh betapa mereka tidak pernah mampu mempengaruhi masyarakat. Penyebabnya sangat sederhana sekali, karena akidah mereka dijelaskan dengan cara yang rumit dan kompleks. Banyak ketidakjelasan di sana, bahkan tidak semua kalangan ilmuwan mampu mencerna akidah mereka. Akibatnya Mu’tazilah hanya dapat ditemukan dalam wacana ilmiah dan tidak akan pernah mampu masuk dalam pemahaman masyarakat.

Syiah harus dikembangkan bak sebuah makanan lezat dan instan. Sebuah tata pikir yang mudah, tidak kompleks. Tidak banyak kembangannya sehingga menjadi sulit dan tidak dapat dipertahankan. Kita harus mampu menjelaskan Syiah secara komprehensif dalam sebuah penjelasan ringkas.

Tentunya, menjelaskan Syiah secara sederhana namun komprehensif tidaklah mudah. Begitu juga tidak semua orang mampu melakukannya. Hal ini membutuhkan kerja sama semua pihak untuk memikirkan masalah ini bersama-sama dan dituangkan dalam bentuk tulisan; baik itu berupa buku, brosur, silabus dan lain-lain. Oleh karena itu, kita membutuhkan media murah untuk melakukan tranformasi ide ini ke masyarakat.

2. Ketat dan Kaku dalam Beragama

Kelompok Khawarij memiliki pesona tersendiri dalam sejarah Islam. Namun, tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa setelah peristiwa Nahrawan, Khawarij masih memiliki pandangan yang dapat dibanggakan dan diterima oleh masyarakat. Pada dasarnya, orang-orang Khawarij senantiasa mengidentikkan dirinya sebagai orang-orang zuhud, benci terhadap golongan kaya dan benci kezaliman. Dalam sisi pemikiran, mereka menunjukkan dirinya sebagai golongan yang berpegang teguh dengan al-Qur’an. Sikap ini tidak membuat mereka memiliki tempat khusus di dunia Islam. Saat ini, dapat dikatakan bahwa Khawarij tidak memiliki perkembangan bahkan dapat dikatakan telah terhapus dari kumpulan mazhab Islam.

Tentu perlu dicari tahu apa penyebabnya. Salah satu penyebab kemandekan bahkan kemusnahan mereka adalah keketatan dan kekakuan dalam beragama. Sebagai bahan perbandingan, coba kita lihat bagaimana di timur dunia Islam, Abu Hanifah dengan pandangan fiqihnya memberikan syarat yang mudah dalam beragama. Ia membolehkan orang melakukan salat dengan bahasa Persi dan menyatakan bahwa setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat berarti telah menjadi muslim. Cara pandang Abu Hanifah membuat banyak orang mengikutinya dan mazhab Hanafiyah cepat berkembang menjadi luas. Ini salah satu pengalaman sejarah.

Sementara Khawarij begitu kaku dalam memahami dan mengaplikasikan rasa keberagamaannya. Mereka menganggap orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan wajib untuk dibunuh. Siapa saja yang menjadi Khawarij, maka ia harus melepaskan urusan dunianya dan ikut dalam Dar al-Hijrah dan harus siap untuk melakukan perjuangan dari pagi hingga malam. Sikap kaku yang dimiliki oleh Khawarij membuat mereka tidak diterima kalangan lain.

Setiap bentuk kekakuan dalam beragama apapun bentuknya baik dalam masalah teori, fiqih, dan bentuk kontrol sosial dalam sebuah negara akan menghalangi perkembangan sebuah mazhab.

Dalam rentang sejarah, kita dapat mengatakan bahwa kelompok Murjiah telah menguasai dunia. Tapi yang dimaksud dengan kelompok Murjiah di sini bukan Murjiah yang dimuat dalam buku “Milal wan Nihal” yang memiliki akidah bahwa tidak ada masalah jika seseorang melakukan dosa, sekalipun dosa yang dilakukan adalah dosa besar. Tapi maksud Murjiah di sini adalah sebuah kenyataan di luar. Kita dapat melihat bahwa cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, ia sudah dianggap sebagai seorang muslim. Dan ketika ia melakukan dosa tidak berarti bahwa ia telah keluar dari Islam.

Bila Syiah punya cara pandang yang kaku dan menyempitkan ruang gerak pengikutnya maka Syiah tinggal menunggu waktu kebinasaannya seperti Khawarij atau paling tidak, Syiah hanya akan bertahan di sebuah kawasan tertentu.

Hal ini jugalah yang membuat Wahabi/Salafi tidak mampu mengembangkan pengaruhnya secara maksimal meskipun ditopang dengan biaya besar dan telah dikerahkan seluruh daya dan upaya untuk mengembangkan pengaruhnya di kalangan kaum muslimin. Kekakuan dalam beragama yang mereka terapkan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh Khawarij karena mereka membuat batasan yang kaku dan ekstrim dalam mendefinisikan kekufuran dan keimanan, dan ini tidak dapat diterima oleh banyak kalangan.

3. Cara Pandang Sektarian

Kiranya diperlukan sebuah kejelasan dalam menilai Syiah, apakah Syiah adalah sebuah kelompok ataukah sebuah mazhab yang berusaha menghidayahi manusia. Bila inti ajaran Syiah adalah sebuah cara pandang terhadap Islam, maka tidak semestinya kita membatasinya sebagai sebuah kelompok.

Meskipun pengikut Syiah tidak terbatas pada sebuah ras tertentu, namun pada kenyataannya, kondisi tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dari pengikut Syiah. Semakin kita berusaha mempersempit Syiah, berarti kita memaknai Syiah hanya sebagai sebuah kelompok.

Sejarah mencatat, setiap kelompok minoritas akan selalu mempertahankan ciri-cirinya dengan simbol-simbol tertentu. Hubungan dengan masyarakat sekitar akan mereka batasi dan mereka hanya berhubungan dengan sesama mereka. Mereka tidak akan mengawinkan anak wanitanya dengan orang lain, sebagaimana mereka tidak mencari anak wanita lain untuk anak lelakinya. Bila pengikut Syiah melakukan hal yang sama dalam kondisi sebagai minoritas maka tidak akan ada yang ingin mengenal dan mengetahui Syiah. Demikian pula sebaliknya.

Bila kita tidak mempunyai kepentingan untuk mengembangkan Syiah, maka sikap seperti kaum minoritas itu tidak akan mempunyai dampak dan kita bisa saja menambahkan sesuatu yang baru ke dalam mazhab ini. Saat ini banyak hal yang sebelumnya tidak ditemukan pada Syiah, sekarang telah ditambahkan, bahkan dijadikan sebagai sebuah kesepakatan. Bila seseorang tidak meyakini masalah itu, bahkan bila ia adalah Syiah, mereka akan mengeluarkannya dari mazhab Syiah. Orang seperti itu tidak dapat diterima dalam sebuah komunitas Syiah.

Permasalahannya adalah ketika kita ingin mengembangkan dan memperkenalkan Syiah kepada orang lain. Di sini cara pandang kita perlu diperbaiki. Syiah jangan dijadikan sebagai sebuah kelompok eksklusif. Selama kita menjadikan Syiah hanya sebagai sebuah kelompok, maka ia tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya, bahkan setiap hari akan semakin mengecil. Syiah harus dikembalikan sebagai mazhab yang memiliki risalah untuk memberi petunjuk dan hidayah kepada umat manusia. Kita perlu mengeluarkannya dari sifat kelompok menjadi sebuah ajaran yang dapat diterima oleh semua orang.

4. Minus Informasi Terpusat

Ijtihad adalah salah satu dari keunggulan ajaran Syiah. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan ilmu-ilmu pengantar ijtihad, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Namun sayangnya, sering terjadi penyalahgunaan. Dengan alasan ijtihad, banyak orang melontarkan pandangan-pandangan yang malah tidak diterima oleh masyarakat umum.

Masalah paling urgen bagi Syiah saat ini adalah tidak adanya informasi terpusat. Kita tidak tahu kepemimpinan Syiah berada di tangan siapa. Setiap mujtahid, dengan mudah melontarkan pandangannya setiap saat yang terkadang berbeda dengan pendapat mujtahid lain dan tidak dapat diterima oleh masyarakat umum. Syiah bukanlah sebuah ajaran yang setiap saat bisa ditambah sesuka hati. Sebuah organisasi kecil saja tidak mudah untuk bisa menambah aturan-aturannya apa lagi ini sebuah mazhab.

Bisa saja kita berandai-andai dan mengatakan bahwa 100 tahun kemudian, ulama besar Syiah akan berkumpul dan melakukan perubahan-perubahan. Dalam syiah, gambaran pandangan itu seperti apa?, Siapa yang memiliki tugas untuk menjelaskan akidah Syiah? Di mana ulama Syiah sepakat dalam sebuah masalah? Ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu mendapat jawaban jelas dan pasti dari ulama Syiah.

Bila pusat-pusat pemikiran Syiah berbilang dan tidak ada definisi yang tuntas mengenai masalah ini, yang menjadi korban adalah para pengikut Syiah sendiri. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Bila seorang telah Syiah, ia harus mengikuti pandangan yang mana? Siapa yang harus didengarnya?

Penjelasan ini mungkin menimbulkan pertanyaan lain bahwa bila informasi tentang Syiah telah dipusatkan, itu berarti tidak ada kebebasan berpendapat, tertutupnya pusat-pusat penelitian dan tidak ada lagi tempat untuk berbeda. Ini dua masalah yang berbeda. Penelitian punya tempat tersendiri dan masyarakat perlu kebesaran hati untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang duduk di pusat-pusat penelitian untuk melakukan aktivitasnya. Tapi, masyarakat dari sisi keberagamaannya, baik itu Syiah atau tidak, perlu mengetahui apa kewajibannya, apa yang harus dilakukannya.

Bila kita sepakat bahwa Syiah perlu diperkenalkan kepada orang lain, maka dibutuhkan sebuah kesepakatan puncak dalam masalah-masalah penting. Kesepakatan puncak ini dapat dicerap ketika, setidak-tidaknya, dalam prinrip-prinsip sederhana dan primer ada kesepakatan sampai pada batas-batas tertentu.

Sebagai contoh, para marja Syiah kontemporer telah berbicara banyak dan luas tentang tidak adanya perubahan dalam al-Quran. Mereka bahkan telah memberikan peringatan bahwa dalam Syiah tidak diyakini adanya tahrif al-Quran. Namun, tetap saja ada satu dua ulama Syiah yang meyakini adanya tahrif al-Quran dalam Syiah. Ini bukan permasalahan baru, sejak dahulu hal yang seperti ini sudah ada. Saat ini, pengikut Syiah membutuhkan sebuah majelis ulama yang mengeluarkan sebuah fatwa terpusat. Sehingga ketika mereka telah mengkaji dan mengeluarkan fatwa, yang lain harus mengetahui bahwa pandangan yang dikeluarkan oleh majelis ulama Syiah ini adalah sebuah prinsip dan tidak ada pandangan lain lagi.

Sebagai contoh, sekitar tahun 1931-1933 sempat terjadi perdebatan serius tentang masalah Raj’ah di kota Qom. Perdebatan ini akhirnya mencapai puncak sehingga hampir timbul konflik. Akhirnya, masalah ini ditanyakan kepada Ayatullah Abdul Karim Hairi Yazdi, marja terbesar Syiah saat itu di Iran. Dengan mudah dan santai beliau menuliskan fatwanya: “Bila seseorang tidak meyakini akan Raj’ah, ia tidak keluar dari Syiah”. Perdebatan sengit itu langsung redam.

Pengikut Syiah di Indonesia sendiri, mempunyai potensi untuk mengumpulkan semua kecenderungan yang ada. Karena itu sudah menjadi salah satu kepribadian bangsa Indonesia. Syiah Indonesia perlu mengkaji titik-titik kesamaan yang dimiliki. Kesamaan yang ada ini dapat menjadi solusi meredam berkembangnya pandangan-pandangan yang berbeda yang menggoyahkan tatanan sosial masyarakat. Ketika orang-orang yang memiliki kelayakan secara ilmiah atau sebuah badan ulama tertentu tidak mengeluarkan pandangan dalam menyikapi sebuah masalah, maka akan muncul pandangan-pandangan dari mereka yang tidak memiliki kelayakan untuk mengeluarkan pendapat. Hal ini sangat rentan dan akan menimbulkan sebuah konflik.

Hal yang sama terjadi di pusat-pusat Syiah seperti Qom dan Najaf. Ketika seorang marja tidak mengeluarkan pandangannya tentang sebuah masalah agar tidak muncul sebuah problem, solusinya akan diambil alih oleh orang-orang yang tidak layak untuk mengeluarkan fatwa. Tentu mereka tidak bisa disalahkan seratus persen, karena mereka sendiri perlu tahu apa yang harus dilakukan. Ketika tidak ada penjelasan sedang mereka dituntut untuk melakukan sesuatu, perlu penjustifikasian untuk perbuatan mereka maka mereka akan menerima pendapat dari siapa saja.

Bila di Indonesia kita telah menyamakan visi dan ada kesepakatan, kita akan mampu menyampaikan pendapat kita sekaligus memperkenalkan Syiah dengan baik. Namun, selama tidak ada kesamaan persepsi, sulit dibayangkan kita dapat berkiprah di Indonesia kelak.

5. Minus Sikap Moderat

Sejarah mencatat banyak ulama Syiah yang memiliki hubungan baik dengan ulama Ahli Sunah. Syekh Mufid dan Syekh Thusi merupakan salah satu contohnya. Keduanya cukup getol melakukan kajian perbandingan fiqih Syiah dan Ahli Sunah. Buku al-Khilaf yang memuat ragam mazhab Islam dalam sebuah masalah fiqih merupakan salah satu karya berharga Syekh Thusi dalam masalah ini.

Murid-murid Syekh Thusi yang berhijrah ke daerah Rey di Iran—pusat mazhab Syafi’i dan Hanafi—telah berhasil disulap menjadi pusat pemikiran mazhab Syiah tanpa terjadi konflik. Orang-orang Syiah masuk ke sana dengan menunjukkan sikap moderat dan cinta damai. Sebuah sikap warisan dari hauzah Najaf. Bila kita membuka buku-buku Ahli Sunah yang menceritakan tentang tokoh-tokoh ulama, akan ditemukan nama Allamah Hilli yang disebut-sebut sebagai ulama Syiah yang memiliki kepribadian moderat. Beliau tidak mencaci maki sahabat.

Setelah kedatangan ulama Syiah, kondisi kota Rey berubah drastis. Kaum Sunah ikut menghadiri ceramah-ceramah yang disampaikan oleh ulama Syiah. Sebaliknya, ulama Syiah ikut menghadiri acara-acara yang diadakan oleh Ahli Sunah. Terkadang terjadi dialog-dialog sehat di antara mereka. Semuanya berjalan tanpa masalah, sementara pengikut Syafi’i dan Hanafi sering terlibat konflik di antara mereka. Syiah dapat diterima oleh kedua belah pihak. Rahasianya adalah karena pandangan yang disampaikan bersifat seimbang dan moderat. Dengan sikap moderat, mereka berhasil menjaga dan mengembangkan Syiah.

Syiah masa kini di Indonesia perlu menunjukkan sikap moderat dan meninggalkan sikap ekstrim. Ini merupakan tuntutan zaman. Bila hal ini tidak dilakukan, Syiah tidak akan berkembang sebagaimana mestinya. Sikap moderat yang dimaksudkan di sini, bukan berarti segala sesuatunya kita sampaikan sesuai dengan maslahat secara ekstrim dan di setiap ruang dan waktu kita akan menyampaikan ajaran Syiah sesuai dengan cara pandang yang telah ada. Tidak demikian! Jelas ada ruang-ruang yang masih bisa ditolerir dan ada yang tidak bisa, seperti antara tauhid dan syirik yang tidak dapat dipertemukan. Perlu diingat bahwa Syiah memiliki akidah-akidah jelas dan bernilai yang harus dipertahankan. Kita perlu membedakan mana yang merupakan substansi Syiah dan mana yang bukan.

Hal lain yang perlu diingat, setiap masyarakat tidak dapat menerima segala macam cara. Ada sejumlah cara tertentu yang dapat mereka terima dengan baik. Jadi kita tidak dapat dengan serta merta menyampaikan Syiah dengan gaya menentang arus dan cara pandang masyarakat setempat.

6. Minus Penguasaan Kondisi Ruang dan Waktu

Selain mempergunakan cara moderat, Syiah masuk ke Iran melalui tasawwuf. Perlahan-lahan tasawwuf yang ada diperbaiki. Sebagian besar mereka yang semula adalah Syiah tasawwuf berubah menjadi Syiah fiqih. Tentunya yang tidak bisa dilupakan bahwa Iran sejak awal memang mempunyai potensi itu.

Berbeda dengan Syiah, dakwah Wahabi/Salafi di mana pun, khususnya di Afrika, yang paling awal diserang adalah kelompok tasawwuf. Pada prinsipnya, Wahabi/Salafi menolak tasawwuf dan tidak memberikan ruang sedikitpun untuknya.

Karena kondisi setiap masyarakat berbeda-beda maka sudah tentu, cara yang dipakai juga akan berbeda-beda. Namun perlu diperhatikan bahwa banyak kondisi yang sebenarnya dapat dimanfaatkan dan lewat kondisi itu kita bisa mendakwahkan Syiah. Apa yang dilakukan oleh Wali Songo merupakan contoh paling jelas dalam dakwah di Indonesia. Mereka mampu melihat kondisi yang ada di masyarakat dan sesuai dengan kondisi itu mereka memasukkan ajaran-ajaran Islam. Namun, apakah tugas mereka telah selesai? Tentu jawabannya adalah tidak. Apa yang mereka lakukan adalah langkah awal, kaum muslimin setelahnya memiliki kewajiban untuk melanjutkan cara mereka ini dan memperbaiki cara pandang masyarakat.

Salah satu keunggulan Syiah dibandingkan mazhab yang lain adalah sistem pemikirannya yang kaya. Di Syiah ada cara pandang fiqih, kezuhudan, kearifan, begitu juga kajian-kajian akhlak tingkat tinggi. Dapat dikatakan Syiah adalah sebuah mazhab rasional dan pada kondisi tertentu, hal ini dapat dimanfaatkan demi perkembangan Syiah.

Di Arab Saudi, jurusan teologi tidak diizinkan berdiri. Sementara pada waktu yang sama, Syiah dengan mudah dapat memanfaatkan teologi yang disukai oleh orang-orang Mesir dan sebagian besar kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan dakwahnya. Sedangkan Wahabi/Salafi memiliki kecenderungan yang sangat ketat dalam masalah hadis. Dalam Syiah, selain kajian-kajian hadisnya bersifat serius, ia juga dilengkapi dengan sistem berpikir seperti irfan, filsafat dan lain-lain.

Hendaknya kekayaan khazanah pemikiran Syiah ini tidak dipersempit. Bila seseorang hanya mampu menguasai salah satu dari disiplin ilmu dari khazanah pemikiran Syiah, semestinya ia tidak mengambil keputusan-keputusan final, tapi biarkanlah ruang kosong yang ada dipenuhi oleh mereka yang memilki kelebihan dalam disiplin ilmu lain. Bila tidak, Syiah akan dianggap hanya memiliki sebuah satu cara pandang saja. Dan untuk merubah cara berpikir seperti ini, dibutuhkan energi yang cukup besar.

Qom, 5 Mei 2007

Iblis; Pencetus kebanggaan

Iblis; Pencetus kebanggaan

Emi Nur Hayati Ma’sum Said

Pencetus pertama kalinya bangga diri adalah iblis, di saat Allah memerintahkan seluruh makhluk-Nya untuk bersujud di hadapan Nabi Adam as, manusia pertama. Ia tidak mau tunduk kepada perintah Tuhannya karena kebanggaan atas rasnya sebagai makhluk yang diciptakan dari api. Kebanggaan inilah yang membuatnya ia harus menerima marah dan azab Allah selamanya.

Allah berfirman:" Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?”. Menjawab iblis: "Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah (A’raf [7]:12).

Sebagian orang memiliki kebanggaan tersendiri. Adakalanya ia bangga karena titelnya sebagai seorang sarjana bertitel; doktor, prof, direktur eksekutif dan sebaginya.

Adakalanya bangga karena rasnya sebagai orang Eropa, Amerika, Arab, Asia, India, Iran, Pakistan, Turki, Malaysia, Indonesia dan sebaginya.

Adakalanya bangga karena keturunan ningrat, keturunan Arab, keturunan suku fulan dan fulan dan sebagainya.

Adakalanya bangga karena kekayaannya, karena sebagai orang kota, tinggal di kota metropolitan, karena kecantikannya, karena bodinya, karena hidungnya yang mancung, karena kulitnya yang putih, karena pakaiannya yang bermerek dan sebaginya.

Adakalanya bangga saat berjalan dengan istrinya yang berias cantik dan berbusana ketat, bangga saat mengendarai mobilnya yang keren, bangga saat memakai tas mahal, bangga saat bersepatu bagus dan sebaginya.

Manusia boleh berbangga diri. Namun, ia harus tahu atas dasar apa ia berbangga? Apakah kebanggaannya mengandung nilai ilahi atau nilai iblis? Apakah saat ia berbangga pada saat yang sama harus menghina orang lain? Apakah kebanggaannya bisa membuatnya ia selamat dunia maupun akhirat? Apakah saat ia berbangga diri pada saat yang sama tahu bahwa ia menunjukkan kebodohan dan ketololannya? Apakah kebanggaannya bukan berhala baginya? Apakah kebanggaan bukan perangkap baginya? Apakah kebanggaan bukan sebab kehancurannya?

Sudahkah kita berpikir apa tolok ukur kebanggaan sehingga saat berbangga harus menghinakan orang lain? Apa benar orang yang kita hina tidak sakit hati? Apakah orang yang kita hina bukan wali Allah? Apakah orang yang kita hina tidak memiliki hati yang lapang?

Oleh karena itu ada tiga hal yang tersembunyi dari pandangan manusia; pertama wali Allah, kedua

Kebanggaan bisa membuat pelakunya membangkang perintah Allah sehingga harus masuk dalam jurang kehancuran.

Imam Ali bin Abi Thalib as dalam hal ini bersabda: “Ambillah pelajaran dari setan, bagaimana ia bisa terpuruk setelah beribadah selama enam ribu tahun (tidak jelas, apakah tahun duniawi; 365 hari atau tahun ukhrawi yang seharinya sama dengan 50 ribu tahun duniawi) hanya karena kebanggaan dan kesombongan yang sesaat saja. (Nahjul Balaghah, khutbah 192).

Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang bangga dan sombong pada hari kiamat dibangkitkan sebagai orang yang paling hina dan diinjak-injak oleh makhluk lainnya. (Tafsir Maraghi).

Dalam riwayat lain dikatakan: “Allah akan mengangkat orang-orang yang tawadu dan rendah hati dan menghinakan orang-orang yang sombong dan bangga diri”. (Mahajjah Al-baidha, jilid 6, hal 215).

Takabur menyebabkan hilangnya amal. Orang yang menganggap dirinya paling utama, paling tinggi dan paling-paling..., ia harus menunggu jawaban dari Allah “keluarlah sesungguhnya kalian termasuk orang-orang yang hina!”.

Rasisme adalah nilai-nilai yang dicetuskan oleh setan. Orang yang menganggap dirinya paling tinggi, paling wah, paling hebat dari yang lain, sebenarnya sedang melupakan dirinya.

Akar kekufuran ada tiga: tamak, hasut dan takabur.(Kafi, jilid 2, bab Usul al-Kufr).

Tolok Ukur Derajat Seseorang

Tolok ukur seseorang dianggap sebagai orang besar adalah karena ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah swt, bukan titelnya, usianya yang lebih tua, ras, kekayaan dan pengalaman dan lain sebaginya.

Berbanggalah karena sebagai hamba Allah dan Allah sebagai Tuhan kita! Sebagaimana ucapan Imam Ali as: “Ya Allah! Aku bangga sebagai hamba-Mu dan Engkau sebagai Tuhanku”

Orang yang bangga diri, boleh jadi kebanggaannya ditampakkan dengan ucapan atau dengan isyarat. Bangga diri melalui ucapan boleh jadi hanya membanggakan dirinya saja, boleh jadi pada saat yang sama ia menghina dan melecehkan orang lain. Orang yang menampakkan kebanggaannya sekaligus menghina dan melecehkan orang lain, ia berdosa dua kali. Mengapa? Dari satu sisi ia lupa bahwa apa yang dibanggakannya adalah pemberian Allah, dari sisi lain ia sedang menghina dan melecehkan hamba Allah. Padahal tolok ukur ketinggian seseorang adalah karena ketaatan dan ketakwaannya kepada Allah. Dalam al-Quran Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian”. (Hujurat [49]:13)

Ras bukan sebuah kebanggaan, tetapi penciptaan Allah di luar kehendak manusia. Bila manusia ada yang pendek, tinggi, jelek atau cantik, hitam atau putih, tujuannya adalah untuk mengenal satu sama lain, bukan untuk membanggakan diri dan menghina serta merendahkan yang lainnya.

Tentunya dalam al-Quran ada beberapa hal yang menjadi tolok ukur kebanggaan, antara lain ilmu, pengalaman, amanat, kemampuan dan hijrah. Namun, jangan lupa bahwa semua ini kita niatkan karena Allah. Bila kita menuntut ilmu karena ingin dipuji atau membanggakan diri, maka kita sedang berada di tebing kehancuran.

Dan sampai kapan kita harus terjerat oleh penyakit bangga diri? Sampai kapan kita harus melanjutkan cetusan iblis? Sampai kapan kita harus melihat sinis orang yang kita hinakan? Sampai kapan kita harus melihat tajam orang yang tidak kita sukai? Padahal boleh jadi orang yang kita hinakan adalah kekasih Allah. Mari kita berlindung kepada Allah agar terjauh dari sifat bangga diri. Bila sudah terjangkit secepatnya kita sembuhkan dengan berdoa dan bertindak!!!