Kamis, 25 Januari 2007

Anda Termasuk Orang Yang Menderita Hasut?



Hasut: Pengaruhnya dalam Kehidupan Sosial
Emi Nur Hayati Ma’sum Said

Manusia diciptakan dengan dibekali potensi dan kemampuan dalam dirinya. Setiap manusia memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Dengan adanya perbedaan potensi dan kemampuan maka kebutuhan dan selera manusia bisa terpenuhi. Seorang alim dengan kemampuannya ia bisa membentuk masyarakat religius. Seorang dokter dengan kemampuannya ia bisa mengabdi kepada masyarakat dan mengobati orang-orang yang sakit . Seorang insinyur bisa membuat bangunan yang megah dan seterusnya sampai kalangan yang paling bawah seperti pengabdi rumah tangga dan sebaginya. Kemampuan atau kelebihan yang dimiliki oleh manusia adalah pemberian ilahi dan masing-masing akan mendapatkan hasilnya sesuai dengan kemampuan dan jerih payahnya. Bila saudara kita memiliki kelebihan, baik kelebihan materi maupun spiritual, itu adalah sunah ilahi yang sudah ditetapkan kepada setiap manusia. Dan yang lainnya yang tidak memiliki tidak boleh menghasutnya. Karena hasut adalah sifat munafik, sementara orang mukmin adalah ahli ghibtah.

Hasut adalah kondisi nafsu di mana pemiliknya mengharapkan hilangnya nikmat yang dikhayalkan dari orang lain dan ia berupaya untuk menghilangkan nikmat tersebut dari orang yang dihasutinya baik ia (si penghasut) menghendaki nikmat tersebut atau tidak.

Ghibtah adalah berharap untuk mendapatkan nikmat dengan tanpa mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari pemiliknya yakni ketika seseorang menyaksikan nikmat dan kelebihan pada orang lain ia berkata:”Seandainya aku juga memiliki nikmat tersebut”, karena ia menginginkannya, ia berusaha untuk mendapatkannya dan ia tidak pernah mengharapkan hilangnya nikmat tersebut dari pemiliknya dan tidak juga berusaha untuk menghilangkan dari pemiliknya". Oleh karena itu hadis mengatakan: “Orang mukmin ahli ghibtah, akan tetapi orang munafik menghasut”.

Hasut pada hakikatnya marah terhadap hukum Allah dan menentang sistem urusan-Nya dan menolak kebaikan Allah terhadap sebagian hamba-hamba-Nya.

Untuk lebih jelasnya, maka di sini kita sebutkan juga hasut menurut pandangan al-Quran. “Jangan mengharapkan kelebihan yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kalian dari sebagian yang lain. Untuk laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mintalah karunia kepada Allah sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu”.[1]
“Dan dari kejahatan orang yang hasut apabila ia hasut”.[2]

Maksudnya adalah berlindung kepada Allah dari keburukan orang yang hasut ketika diserang penyakit hasut dan perbuatannya terhadap orang yang dihasuti. Sebagian para mufassir mengatakan bahwa ayat ini juga mencakup lirikan orang yang pandangannya membawa malapetaka orang lain atau barang yang dipandangnya, karena pandangan yang demikian itu muncul dari rasa hasutnya artinya seorang yang hasut ketika melihat sesuatu yang menurutnya menakjubkan dan indah maka hasutnya akan bangkit dan ia akan mengeluarkan keburukannya dengan pandangannya.[3



Imam Ali as dalam khotbahnya mengatakan: “Kalian jangan saling menghasut karena sesungguhnya hasut akan merusak iman, sebagaimana api membakar kayu”.[4]

Faktor-faktor Kejiwaan Pencetus Hasut dalam Hati Manusia:



1. Egois. Setiap manusia secara fitrah senang akan kesempurnaan dan ketenangan, akan tetapi ketika ia merasa puas akan dirinya sendiri maka ia akan menganggap dirinya lebih tinggi dari orang lain, dan tidak melihat sedikit pun kekurangan dalam dirinya. Akhirnya ketika ia melihat kelebihan dan kesuksesan pada orang lain maka pada saat itu ia akan hasut dan tidak suka orang lain lebih tinggi darinya. Apabila keegoisannya adalah ingin berkuasa dan terkenal maka akan lebih berbahaya karena ia akan berharap hanya dia sendirilah yang harus memiliki kekuasaan dan kemasyhuran dan jangan sampai orang lain sama dengannya. Bila ada orang lain yang menyamainya dalam kekuasaan dan kemasyhuran ini maka ia akan hasut dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut dari pemiliknya.

2. Sombong dan Congkak. Orang yang congkak senantiasa merasa dirinya rendah dan hina karena kecilnya hati dan perasaannya. Ia senantiasa ketakutan akan kedudukan dan posisinya sekalipun ia memiliki kemampuan. Ia senantiasa berusaha menjaga kedudukan dan posisinya. Bila ia merasa orang lain memiliki kedudukan dan posisi lebih tinggi darinya maka ia ketakutan dan panik dan kemudian muncul hasut dalam dirinya.


3. Kikir. Orang kikir adalah orang yang enggan memberikan kebaikan kepada orang lain. Maksud kikir di sini adalah bila ada orang berbuat baik kepada sesamanya maka ia tidak menyukai keduanya. Masalahnya di sini adalah ia tidak suka jika nikmat berada di tangan orang lain kendati tidak merugikan dirinya, bahkan menguntungkan dirinya sekalipun, ia tetap tidak suka.

4. Rakus dan Tamak. Orang yang tamak menginginkan segalanya adalah milik dia sekalipun ia sudah memiliki dan senantiasa mengharapkan yang lebih banyak. Ketika ia tidak mampu mengendalikan kemauannya untuk senantiasa memiliki kelebihan maka akan tumbuh hasut dalam dirinya.


Tanda-tanda Hasut
Sebelum kita membahas tanda-tanda hasut, perlu diingat bahwa tanda-tanda yang akan disebutkan, masing-masing dengan sendirinya bukan sebagai tanda hasut, karena banyak orang yang memiliki sifat ini tetapi ia bukan penghasut. Oleh karenanya bila kita melihat kasus tersebut ada pada seseorang maka kita tidak boleh menghukumi bahwa orang tersebut adalah penghasut. Tujuan dari penyebutan tanda-tanda hasut di sini adalah untuk diri kita sendiri, artinya setiap saat kita mendapatkan diri kita demikian maka secepatnya kita meneliti diri kita sendiri, apakah kita sudah mengidap penyakit hasut atau belum? Bila kita dapatkan bahwa kita sudah mengidap penyakit hasut maka secepatnya berusaha untuk mengobatinya supaya diri kita dan orang lain selamat dari penyakit ini. Tanda-tanda hasut antara lain:

1. Kritikan yang dahsyat dan menjelek-jelekkan, penyebabnya adalah hasut. Kadang kala hasut yang dibarengi dengan diam berarti menjelek-jelekkan seseorang, artinya jika ada seseorang menjelek-jelekkan orang lain dan kita diam berarti kita mengesahkan orang yang menjelek-jelekkannya.
Macam-macam penghasut dengan cara menjelek-jelekkan:

a. Ketika di hadapan orang yang dihasuti, penghasut berbicara secara lunak dan ramah, tetapi di belakangnya ia menjelek-jelekkan dan memfitnahnya. Imam Shadiq as berkaitan dengan hal ini bersabda: “Lukman Hakim berkata kepada anaknya, “Hasut memiliki tiga tanda-tanda; di belakang menjelek-jelekkannya, di depannya beramah-tamah, ketika yang dihasutinya mendapat musibah malah mencelanya".[5]

b. Tidak punya rasa malu. Kadang-kadang penghasut menjelek-jelekkan orang yang dihasutinya di hadapannya secara terang-terangan atau dengan cara menertawakan dan mengejeknya untuk meluapkan tujuannya di mana saja ia berada dengan tanpa rasa malu.


2. Tidak banyak memuji. Ketika sebagian orang memuji orang-orang yang mulia dan bertakwa para penghasut diam saja dan tidak mau memuji mereka, kalaupun ia terpaksa harus memujinya maka ia tidak banyak memujinya. Ada istilah, “Memuji berlebihan adalah menjilat dan kurang dalam memuji adalah hasut”.

3. Cepat menerima celaan. Penghasut tidak senang bila ada orang lain dipuji di hadapannya. Sebaliknya jika orang tersebut dijelek-jelekkan di hadapannya ia cepat menerimanya.


4. Pendendam, tidak pemaaf dan ketika berkuasa tidak memiliki kasih sayang. Pemaaf adalah sifat manusiawi, semakin tinggi kemanusiaan seseorang maka ia cepat memaafkan.

5. Pemarah. Rasa panik tidak mengizinkan seseorang untuk tenang dan tersenyum serta bertemu orang lain dengan wajah ceria. Karena ia tidak suka melihat orang lain bahagia. Imam Shadiq as berkata kepada sufyan Tsauri: “la rahata lihasud” orang hasut tidak memiliki ketenangan.

Adapun tolok ukur hasut adalah penghasut menyenangi sesuatu hanya untuk dirinya dan tidak untuk orang lain. Dan ia menginginkan sesuatu untuk orang lain dan tidak untuk dirinya. Sebaliknya orang yang suci dari hasut, apa saja yang ia inginkan untuk dirinya ia juga menginginkan untuk orang lain, jika ia tidak menginginkan sesuatu untuk orang lain, ia juga tidak menginginkannya untuk dirinya.

Kesimpulan dari dua kalimat tersebut, dengan menyebutkan beberapa pertanyaan untuk orang yang ingin menguji dirinya:



1. Apakah anda sedih bila melihat dan mendengar kebahagiaan, kekayaan, kecantikan, kekuasaan dan barang-barang mahal orang lain?
2. Apakah jika ada orang menjelek-jelekkan sesamanya, anda akan cepat menerimanya?
3. Apakah anda sedih jika ada orang dipuji di hadapan anda?
4. Apakah jika ada orang memiliki kelebihan bagi anda berat untuk memujinya?
5. Apakah anda sedih bila orang lain maju, sementara anda menganggapnya lebih rendah dari anda?
6. Apakah masyarakat mengakui anda sebagai orang yang lekas naik darah dan pemarah?
7. Apakah jika anda berhadapan dengan sebagian orang anda memujinya kemudian jika di belakangnya anda menjelek-jelekkannya?
8. Apakah anda menganggap mayoritas orang lain tidak benar dan tidak baik?
9. Apakah anda senang dengan kesusahan dan musibah yang menimpa sebagian orang?
10. Apakah buruk sangka sebagian orang, anda sampaikan kepada yang lainnya dan anda menyampaikan celaan kepada orang yang dicela.
11. Apakah rasa dendam anda tinggi?
12. Apakah anda orang yang sangat suka mengkritik dan cepat gelisah.
13. Apakah masyarakat mengenal anda sebagai orang yang buruk sangka?

Jika jawaban semua pertanyaan di atas adalah tidak maka anda bukan penghasut. Jika mayoritas jawabannya adalah iya maka anda adalah penghasut dan berusahalah untuk mengobatinya. Jika jawaban iyanya sedikit maka anda sedikit memiliki sifat hasut dan hati-hatilah jangan sampai menjadi besar. Jika jawaban iyanya satu atau dua maka tidak bisa dipastikan bahwa anda bukan penghasut, bahkan jika jawaban pertanyaan pertama saja adalah iya maka dalam diri anda terdapat penyakit hasut.

Pengaruh Hasut dalam Kehidupan Masyarakat
1. Hasut menghambat pertumbuhan masyarakat. Jika dalam sebuah komunitas didapatkan hasut maka komunitas itu tidak akan maju, karena para penghasut tidak mengizinkan orang-orang yang layak untuk mendapatkan kekuasaan. Penghasut menginginkan dirinya saja yang memegang kekuasaan dan mereka senantiasa mencari kelemahan dan kekurangan orang lain. Salah satu faktor tidak adanya kemajuan sebuah masyarakat adalah hasut. Dalam kitab “Empat puluh maudhu ucapan Naraqy”, semua atau sebagian besar kekuatan penghasut hanya untuk merusak masyarakat. Oleh karenanya, di samping ia menghancurkan dirinya sendiri ia juga mengancam keberadaan masyarakat.

2. Kemerosotan dan kemunduran masyarakat yang sudah maju. Masyarakat yang maju adalah masyarakat yang kaya dari sisi pengetahuan, budaya, akhlak dan manajemen. Ketika hasut muncul dalam masyarakat maka kerusuhan menjadi pengganti kebaikan dan kemuliaan. Tujuan pribadi akan menyalakan api fitnah dan menggantikan tujuan masyarakat dan akan memunculkan perselisihan.


3. Menghancurkan kerja sama dan gotong royong. Bahaya umum hasut adalah menghancurkan kerja sama di antara masyarakat dan tidak ada orang yang mau menolong sesamanya. Karena rahasia kesuksesan sebuah komunitas tergantung pada kerja sama anggotanya. Bahkan sebuah komunitas tidak bisa terbentuk tanpa adanya persatuan dan kerja sama. Penghasut tidak mengizinkan adanya kerja sama. Ia selalu berpikir bahwa dirinya saja yang memiliki kelayakan dan ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan urusan masyarakat.

4. Kekacauan keamanan. Hasut akan merusak keamanan masyarakat. Hasut menyebarkan pembunuhan dan menimbulkan perampokan dan penjarahan dan pada akhirnya menyebabkan munculnya pemerintahan yang kejam. Menyebarnya rasa saling tidak percaya dengan sesama dan buruk sangka. Para mustad’afin hidup dalam kesusahan dan pada akhirnya muncul kebencian dalam hati mereka terhadap orang-orang kaya. Suap menyuap dan korupsi menyebar dalam pemerintahan. Krisis umum dan krisis ilmu akibat krisis moral dan akhlak akan menguasai negara dan akan terbukalah pintu kediktatoran.[6] Dan menggoyahkan pemerintahan islam dan mengancam keberadaan maslahat islam dan muslimin.[7]

5. Menahan orang baik untuk berbuat baik dan menghancurkan para pengabdi. Artinya para penghasut tidak mengizinkan orang-orang baik untuk mengabdi kepada masyarakat. Karena para penghasut tidak memiliki kekuatan untuk menahannya, maka yang seharusnya mereka memuji para pengabdi malah mereka mengkritik dan menjelek-jelekkannya.

Cara Mengobati Penyakit Hasut
Di sini ada beberapa resep untuk mengobati hasut.

1. Yang harus diketahui oleh penghasut adalah bahwa hasut tidak mendatangkan keuntungan sama sekali buat dirinya, bahkan selain ia mendatangkan malapetaka di dunia, ia juga menyebabkan azab ilahi di akhirat kelak. Hasut tidak saja menyebabkan siksa batin bahkan akan melemahkan badan dan merusak iman.[8] Cara menyembuhkan hasut dengan ma’rifat dan pengetahuan dan penyucian diri artinya selain harus membersihkan diri dari sifat-sifat yang jelek ia juga harus menghiasi dirinya dengan sifat-sifat yang mulia.[9]

2. Yang harus dibaca oleh penghasut. Penghasut harus membaca kitab-kitab yang berkaitan dengan hasut, sehingga ia bisa memastikan dirinya, apakah ia punya penyakit hasut atau tidak? Bila ia mengidap penyakit hasut maka hendaknya berusaha untuk mengobatinya. Membaca kitab-kitab hasut bagi orang yang tidak mengidap penyakit hasut fungsinya adalah untuk mencegah jangan sampai mengidap penyakit hasut.[10]


3. Yang harus dilakukan oleh penghasut. Penghasut jangan sampai melakukan apa yang diinginkan hatinya, dengan kata lain di hadapan orang yang dihasutinya ia harus melakukan sebaliknya dari apa yang diinginkan hatinya. Misalnya jika hatinya ingin memfitnah atau menjelek-jelekkan orang yang dihasutinya maka ia harus mengambil keputusan untuk memujinya dan menyebutkan kebaikan-kebaikannya.[11] Rasulullah saw bersabda: “Jika kamu hasut maka jangan mengikuti Kemauannya” .[12]

Kesimpulannya, hasut merupakan virus yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia karena tidak saja menghancurkan kehidupan dunia akan tetapi juga kehidupan akhirat seseorang. Hasut, selain ia menghancurkan kehidupan pribadi seseorang ia juga menahan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial. Akhlak islami betul-betul menganjurkan jangan sampai ada hasut dalam hati kita, kalaupun ada Islam memberikan jalan keluar untuk menyembuhkannya.

Cara menyembuhkan hasut dengan mengenal akhlak yang buruk dan akhlak yang baik. Berbuat sebaliknya dari apa yang dikehendaki hati yang hasut. Jika hati hasut menghendaki untuk menjelek-jelekkan seseorang maka sebaiknya diam saja. Bila kita tahu bahwa kita mengidap penyakit ini maka secepatnya kita membasmi penyakit yang berbahaya ini sebelum ia mengakar.




[1] . QS, An-Nisa’: 32.
[2] . QS, Al-Falaq: 5.
[3] . Terjemah Al-Mizan, jilid 20, hal 682.
[4] . Nahjul Balaghah. Khotbah 86/12, hal 144.
[5] . Safinah A-Bihar, jilid 1, hal 598, bagian hasut.
[6] . Sayyid Redho Sadr, Hasut, hal 256.
[7] . Nisbah Yazdi, Akhlak dar Quran, hal 239.
[8] . Sayyid Redho Sadr, Hasut, hal 295.
[9] . Ibid, hal 239.
[10] . Ibid, hal 238.
[11] . Inid, hal 242.
[12]. Bihar Al-Anwar, jilid 74, hal 153, hadis ke 122.

Rabu, 24 Januari 2007

Masalah Air di Karbala1


Masalah Air di Karbala
DR. Asqar Furuqi

Pendahuluan
Peristiwa Karbala, air dan kehausan merupakan hal yang paling menonjol. Penekanan terhadap air dan rasa haus membuat banyak hal-hal yang ditafsirkan dengan masalah ini. Percakapan yang terjadi antara kedua pasukan yang berhadap-hadapan juga banyak membicarakan masalah air. Air membentuk citra keteraniayaan Imam Husein as dan betapa kejamnya musuhnya.

Pentingnya masalah air tidak hanya terbatas pada kejadian sepuluh bulan Muharam. Masalah air dapat ditelusuri jauh sebelum hari kesepuluh, hingga terjadi pembantaian itu. Bahkan bila ingin ditarik lebih jauh lagi, Muslim bin Aqil, berdasarkan sebuah riwayat, dalam perjalanannya dari Madinah ke Kufah, dua pengawalnya mati karena kehausan setelah tersesat beberapa lama.[1] Muslim bin Aqil telah sampai ke Kufah. Dalam kondisi terluka dan tertangkap. Di istana Dar al-Hukumah ia menghembuskan nafas terakhirnya, sekalipun tempat air telah diberikan kepadanya. Hal itu dikarenakan ia banyak mengeluarkan darah dari mulutnya membuat ia tidak sempat lagi merasakan sejuknya air untuk terakhir kalinya. Akhirnya ia dengan bibir kering menjemput kesyahidannya.[2]

Menjemput syahadah dengan bibir kering memang membuat sedih dan trenyuh hati siapa yang mendengarnya.

Demikian juga dalam acara memperingati Asyura, banyak sair-sair yang dibacakan mengenai peristiwa Karbala berkaitan dengan air dan kehausan. Berdasarkan ini, saya berusaha dalam artikel pendek ini, dengan berlandaskan sumber-sumber tepercaya, untuk mengkaji lebih lanjut mengenai masalah air dan kehausan yang dialami oleh Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya. Sebelum masuk pada masalah, ada satu poin penting yang perlu saya ingatkan bahwa dengan berlandaskan pada sumber-sumber yang ada. Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya berusaha untuk mencari air buat keluarganya di tengah kehausan yang hebat mendera. Mereka berusaha untuk menenangkan para sahabat dan keluarganya untuk meningkatkan semangat dalam menghadapi musuh.

Air sebagai senjata
Menakjubkan! Manusia sepanjang sejarah menganggap air sebagai benda berharga yang berperan melestarikan kehidupan makhluk hidup. Air membuat manusia gembira, damai dan tenang. Namun, air juga dipakai untuk membunuh manusia dan menghancurkan sebuah komunitas. Air dipakai sebagai senjata untuk membuat jutaan manusia menderita kehausan dan mati. Air mengubah kehidupan menjadi kematian. Dengan ini, bukan hal yang aneh bila air dipakai untuk memusnahkan Islam dan kaum muslimin.

Para pemberontak pada tahun 35 Hijriah mengepung rumah Khalifah Utsman bin Affan. Mereka berusaha untuk mencegah Utsman untuk mendapatkan air. Imam Ali as berusaha sekuat tenaga agar Utsman dapat meminum air. Untuk itu diutuslah kedua anaknya; Hasan dan Husein untuk mengantarkan air kepada Utsman.[3] Muawiyah yang masih memiliki permusuhan dengan Islam sejak zaman Jahiliah pada perang Shiffin juga berusaha untuk menggunakan air sebagai senjata untuk melawan pasukan Imam Ali as. Namun, ia terlambat untuk menguasai sumber air. Imam Ali as dengan pasukannya telah terlebih dahulu menguasainya. Imam Ali as tidak melarang pasukan Muawiyah untuk memanfaatkan air yang berada dalam kekuasaannya.[4]

Imam Husein as sebagaimana kakek dan ayahnya tidak mempergunakan air sebagai senjata. Lebih dari itu, oleh beliau, air dipakai sebagai alat untuk menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya dan bagaimana hubungan antar sesama muslim. Ketika Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya ditemui oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Riyahi, beliau memerintahkan pasukannya untuk memberikan air yang masih mereka miliki. Hal itu dilakukannya setelah melihat bagaimana pasukan Hurr begitu kehausan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, Imam Husein as dengan tangannya sendiri memberi mereka minum.[5]

Hal ini berbeda seratus delapan puluh derajat ketika mereka diperintah untuk menghabisi Imam Husein as beserta para sahabatnya. Musuh mempergunakan air untuk menekan pasukan Imam Husein as. Ubaidillah bin Ziyad ketika mengirimkan pesan kepada Hurr memerintahkan agar mereka menggiring Imam Husein as dan rombongan ke padang pasir. Tempat di mana mereka tidak dapat berteduh dan tidak terdapat sumber air.[6]

Sesaat ketika Imam Husein as dan rombongan tiba di tanah Karbala, Umar bin Saad mendapat perintah dari Ubaidilah bin Ziyad untuk menghalang-halangi Imam Husein as dan rombongan untuk mendapatkan air. Sekaitan dengan ini, Abu Hanifah Dinwari menulis:

“Ibn Ziyad menulis surat kepada Umar bin Saad yang isinya memerintahkannya untuk menghalang-halangi Imam Husein as mendapatkan air. Bahkan lebih dari itu, jangan sampai mereka dapat minum air barang seteguk pun. Hal yang sama telah dilakukan terhadap Utsman bin Affan”.[7]

Mendapat perintah itu, Umar bin Saad segera menempatkan Amr bin Hajjaj Zubaidi untuk melakukan tugas ini disertai 500 pasukan berkuda. Pasukan penjaga air ini mulai dari hari ketujuh hingga hari kesepuluh secara serius menjaga pinggiran sungai Furat. Tujuannya adalah jangan sampai Imam Husein as dan rombongan dapat memanfaatkan air.[8] Mereka tidak hanya bertugas menghalang-halangi Imam Husein as dan rombongannya untuk dapat sampai ke sumber air, tapi juga melancarkan perang urat syaraf. Sebagai contoh, Abdullah bin Hashin al-Azdi dari kabilah Bujailah berteriak: “Wahai Husein! Apakah engkau melihat air ini? Bentuknya bak langit yang biru jernih. Engkau tidak akan merasakan seteguk pun dari air ini sampai engkau mampus!”[9] Syimr juga termasuk salah satu dari mereka yang mengolok-olok Imam Husein as dan rombongannya.[10]

Sebenarnya, Umar bin Saad tidak hanya menempatkan Amr bin Hajjaj sebagai komandan pasukan penjaga air. Ia memang menugaskan seseorang secara khusus untuk berteriak: “Wahai anak Fathimah dan Rasulullah! Engkau tidak akan mencicipi air ini sebelum kepalamu lepas dari badan atau menyerah dan ikut dengan perintah Ubaidillah bin Ziyad.”[11]

Dengan melihat dialog-dialog dan kejadian di atas, dapat disimpulkan beberapa poin penting sekaitan dengan tujuan musuh menghalangi Imam Husein as untuk mendapatkan air barang seteguk:

Air merupakan salah satu senjata yang dipakai, selain senjata yang sudah dikenal selama ini. Harapannya, dengan menghalangi akses Imam Husein as untuk mendapatkan air, tekanan terhadap mereka lebih kuat dan kekuatan pasukan menjadi lemah. Dengan demikian perlawanan tidak banyak berarti.

Adanya anak-anak dan wanita dalam rombongan dapat melemahkan kekuatan pasukan Imam Husein as. Dalam perhitungan mereka, wanita dan anak-anak tidak mampu bertahan lama dari rasa haus. Dengan ini, pasukan Imam Husein as bakal menyerah.


Dialog-dialog di atas menunjukkan bahwa Bani Umayyah masih belum puas dengan usaha mereka sebelumnya. Mereka kembali mengulangi tragedi Utsman bin Affan yang dikepung dan tidak diberi air. Mengungkapkan kembali kejadian itu ingin menunjukkan bahwa Imam Husein as adalah penyebab terbunuhnya Utsman bin Affan. Kehausan Utsman ketika menjelang ajalnya dijadikan alasan untuk mencegah Imam Husein as dan rombongan untuk mendapatkan seteguk air.
bersambung...

[1] . Mufid, Muhammad bin Nu’man, al-Irsyad, diterjemahkan oleh Sayyid Hasyim Rasuli Mahallati, Entesharate Elmiyeh Eslamiyeh, cetakan ke -2, tanpa tahun, jilid 2, hal 37. Allamah Najisi, Muhammad Baqir, Teheran, 1385, jilid 44, hal 335.
[2] . Ibid, jilid 2, hal 61. Mas’udi, Abu al-Hasan Ali bin Husein, Muruj az-Dzahab wa Ma’adin al-Jawahir, Teheran, 1360, jilid 2, hal 63.
[3] . Thabari, Muhammad bin Jarir, Tarikh Thabari, jilid 6, hal 2247. Ibn Atsir, Izzuddin Ali, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid 3, tahun 35, hal 278. Mas’udi, ibid, jilid 2, hal 701. Miskawaih ar-Razi, Abu Ali, Tajarib al-Umam, Teheran, jilid 1, hal 414.
[4] . Nashr bin Muzahim Nanari, Peikar Seffin, 1366, hal 219-222. Ya’qubi, Ahmad bin Abi Ya’qub, Tarikh Ya’qubi, jilid 2, hal 88-89. Dinwari Abu Hanifah, Ahmad bin Daud, Akhbar at-Thiwal, Teheran, 1366, hal 208-210. Ibn Thaba’thaba, Muhammad bin Ali, Tarikh Fakhri, hal 122-123.
[5] . Thabari, ibid, jilid 7, hal 2990. Mufid, ibid, jilid 1, hal 79. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 149.
[6] Thabari, ibid, jilid 7, hal 3000-3001. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 156. Baladzri, Ahmad bin Yahya bin Jabir, Ansab al-Asyraf, Beirut, 1997, jilid 2, hal 176. Ibn Syahr Asub, Manaqib Aalu Abi Thalib, tanpa tahun, jilid 4, hal 96. Mufid, ibid, jilid 2, hal 84-85.
[7] . Ibid, hal 301.
[8] . Ibn ‘Atsam al-Kufi, Abu Muhammad bin Ahmad bin Ali, al-Futuh, Teheran, 1372, hal 887. Abu Hanifah Dinwari, ibid, hal 301. Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 185. Ibn Syahr Asub, ibid, jilid 4, hal 97. Thabari, ibid, jilid 7, hal 3006, Mufid, ibid, jilid 2, hal 88.
[9] . Ibn Atsir, ibid, jilid 5, hal 158. Thabari, ibid, jilid 7, hal 3006. Baladzri, idem jilid 2 dan 3, hal 118. Abu al-Futuh al-Ishfahani, Maqatil at-Thalibin, tanpa tahun, hal 118. Mufid, ibid, jilid 2, hal88.
[10] . Abu al-Futuh, ibid, hal 118. al-Majlisi, ibid, jilid 45, hal 51-52.
[11] . Ibn ‘Atsam al-Kufi, ibid, hal 83.

Syi'ah Arab Saudi

SYI’AH ARAB SAUDI; Korban Konflik dan Kepicikan Wahabi
Saleh Lapadi

Hubungan yang kurang mesra antara Syi’ah dan Sunni pasca hukuman mati Saddam mulai memakan korban. Korban ini tidak hanya terjadi di Irak yang memang disusupi oleh provokator. Ada tiga pihak yang bermain api di sana; Amerika dan Inggris, kelompok partai Ba’ts dan kelompok takfir yang menganggap semua kaum muslimin yang berbeda dengannya adalah kafir. Kelompok ketiga ini lebih banyak disuplai dari Arab Saudi pusat Wahabi.

Karena Arab Saudi adalah pusat Wahabi, mereka kemudian menekan Syi’ah yang berada di sana. Masalah ini, sekalipun telah ada sejak kemunculan Wahabi di Arab Saudi, namun dengan memanasnya kawasan Timur Tengah, membuat masalah ini muncul lagi. Pemerintah juga mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.

Sebagai contoh, Shadiq al-Jubran, praktisi hukum, salah satu tokoh minoritas mazhab Syi’ah di Arab Saudi sudah biasa bila dikatakan sebagai kafir. Berkali-kali ia diasingkan dari negara yang tidak menghargai kebebasan beragama. Penjara dan pengasingan telah membesarkannya. Kesulitan yang dialami oleh kelompok Syi’ah di Arab Saudi dikarenakan mereka akan senantiasa berhadapan dengan orang-orang Wahabi yang senantiasa menekan mereka baik di kantor, sekolah dan lain-lain.

Menghadapi tekanan yang demikian, sepuluh tahun belakangan, orang-orang Syi’ah di Arab Saudi telah berusaha untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai bidang. Usaha mereka membuahkan hasil dengan adanya perubahan dalam undang-undang peradilan. Dalam pilkada mereka berhasil memenangkan calonnya. Bahkan sampai pada kondisi di mana pada hari libur yang berkaitan dengan mazhab Syi’ah, mereka diliburkan.

Saat ini mereka khawatir setelah sempat menghirup kebebasan sekalipun kecil. Kekhawatiran mereka sangat beralasan dengan melihat kenyataan yang sedang terjadi di Timur Tengah secara keseluruhan. Tentu pemerintah Arab Saudi akan bersikap keras terhadap Syi’ah sebagai masyarakat minoritas. Bahkan ada yang menganalisa bahwa bukan saja mereka akan semakin ditekan, tapi bakal dianggap musuh yang paling dekat.

Hari-hari belakangan ini, sikap dan pergerakan ulama Wahabi terlihat intensitasnya hampir sama ketika revolusi Islam di Iran menang. Arab Saudi sedang menghadapi di Irak dengan membiayai pasukan yang loyal dengan Wahabi untuk menahan laju penyebaran Syi’ah.

Tony Jones yang banyak melakukan penelitian terhadap kelompok Syi’ah Arab Saudi, yang tinggal di daerah Timur Arab ini, mengatakan bahwa perubahan begitu cepatnya. Kondisi seperti berbalik pada tahun 1980. Ia beralasan bagaimana Raja Abdullah tidak lagi memperhatikan bagaimana penggunaan bahasa yang sangat provokatif terhadap Syi’ah. Ia seakan-akan membiarkan ulama Wahabi mempergunakan kata apa saja untuk meluapkan emosi mereka.

Bulan kemarin, tiga puluh ulama Wahabi mengeluarkan statemen agar Ahli Sunah yang ada di kawasan untuk membela Sunni yang sedang berperang melawan Syi’ah di Irak. Abdurrahman al-Barrak salah satu mufti Arab Saudi memfatwakan untuk menyerang Syi’ah.

Al-Jubran, yang berdomisili di kota al-Hufuf yang mayoritas bermazhab Syi’ah mengatakan bahwa sangat sulit bahkan mustahil untuk dapat mengontrol lagi fatwa-fatwa yang semacam ini.

Padahal, menurut data yang ada, 15 persen dari penduduk Arab Saudi bermazhab Syi’ah. Mereka hidup di kawasan Timur Arab Saudi. Kawasan yang kaya minyak. Kawasan di mana untuk pertama kalinya minya di temukan di Arab Saudi. Kawasan yang membuat Arab Saudi menjadi negara petro dolar.

Semenjak tahun 1932 ketika negara Arab Saudi terbentuk senantiasa disiksa. Mereka tidak pernah melakukan pemberontakan sekalipun di zaman raja Pahlevi. Ali al-Marzuq, seorang aktivis Syi’ah di Arab Saudi mengatakan dari tahun 1981 sampai tahun 1983 menjalani hidupnya di penjara. Ia berkata: “Setelah kemenangan revolusi Islam Iran, orang-orang Syi’ah Arab Saudi melakukan demonstrasi untuk merayakan kelahiran Imam mereka. Dalam demonstrasi itu banyak dari orang-orang Syi’ah yang ditangkap. Setelah kejadian itu, dimulailah eksodus orang-orang Syi’ah Arab Saudi ke Iran.

Pada tahun 1993, terjadi perubahan besar dalam kebijakan pemerintah. Hal itu setelah al-Jubran dan tokoh-tokoh Syi’ah Arab Saudi lainnya bertemu dengan raja Fahd. Ia meminta kepada mereka yang diasingkan agar kembali. Mereka yang dipenjara akan dibebaskan dengan melakukan baiat dan menunjukkan loyalitasnya terhadap negara. Fahd juga berjanji untuk meninjau kembali masalah-masalah yang dihadapi oleh orang-orang Syi’ah. Kebijakan ini diterima dengan gembira oleh orang-orang Syi’ah Arab Saudi. Pada waktu ulama Wahabi belum menunjukkan sikap kerasnya.

Setelah itu, orang-orang Syi’ah Arab Saudi berkiprah dan turut andil dalam pemilihan kepala daerah setempat. Dalam masalah ekonomi juga mereka berpartisipasi. Diharapkan ketika pemerintah tidak menekan lebih jauh, sikap orang-orang Syi’ah tetap tidak akan menunjukkan gejolak. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat Syi’ah kota Qathif mendapat izin untuk memperingati hari Asyura.
Qom, 24 Januari 2007

Manfaat Mengkuti Acara Asyura

Manfaat Mengikuti Acara Asyura
Saleh Lapadi

Peristiwa Asyura memiliki banyak pelajaran yang dapat diambil. Dengan menelusuri ungkapan-ungkapan dari Imam Husein as, dimulai dari kepergian beliau untuk menunaikan ibadah haji sampai keluar menuju Karbala, dapat ditemukan tujuan mengapa beliau harus mengambil sikap. Buku-buku sejarah dan hadis mencatat bahwa tujuan Imam Husein as untuk memperbaiki umat kakeknya. Imam Husein as menuju Karbala untuk melakukan perintah amar makruf dan nahi mungkar.

Pelajaran-pelajaran kekesatriaan, kesabaran, tawakal dan sifat-sifat mulia lainnya dapat ditemukan dengan membolak-balik kembali sejarah peristiwa Karbala. Beragam buku menawarkan analisa. Banyak penceramah yang mengupas hikmah dibalik kejadian pembantaian cucu Nabi Muhammad saw.

Dengan melihat bahwa setiap memasuki bulan Muharam, banyak kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan untuk memperingati peristiwa Karbala, menapaktilasi kembali sejarah yang terjadi. Pertanyaannya, apa manfaat dibalik penyelenggaraan memperingati peristiwa Karbala? Bukankah peristiwa itu telah berlalu sekitar seribu empat ratus tahun lalu? Akankah kita hanya ingin membuka luka lama? Kejadian yang hanya menambah kebencian terhadap pelaku pembantaian.

Mengikuti acara peringatan Karbala, selain isi ceramah yang bakal disampaikan oleh sang penceramah, memiliki manfaat lain. Nilai-nilai mulia yang hendak dibela oleh Imam Husein as beserta sahabat dan keluarganya memang membuat peringatan peristiwa Karbala bak kawah candradimuka untuk membangun nilai-nilai tersebut dalam diri setiap orang yang mengikutinya. Nilai-nilai moral yang saat ini mulai pudar.

Mereka yang tidak setuju dengan peringatan peristiwa Karbala akan memandang bahwa acara peringatan itu hanya menunjukkan orang-orang yang frustrasi. Orang-orang yang merasa tidak mampu menolong Imamnya kemudian menyiksa dirinya sendiri. Orang-orang seperti ini memiliki potensi besar untuk mengganggu stabilitas keamanan. Cenderung menyampaikan ketidaksetujuannya dengan kekerasan. Hal itu dikarenakan mereka dengan mudah menyiksa dirinya.

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan berbagai pendekatan. Yang pasti, secara empirik, kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan senantiasa membuat mereka yang mengikutinya lebih tenang. Terutama yang berkaitan dengan pembacaan doa-doa. Ini juga yang membuat kegiatan-kegiatan doa memiliki daya tarik yang luar biasa.

Setidak-tidaknya ada beberapa manfaat yang dapat dipetik oleh seorang yang mengikuti acara Asyura:

1. Pembentukan diri.

Orang yang mengikuti acara Asyura tidak hanya mendapat siraman rohani berupa analisa sebuah masalah atau mendengar nasihat. Dalam memperingati peristiwa Asyura, selain mendapat siraman rohani dengan pencerahan, ada prosesi yang dilakukan untuk mengenang kejadian pembantaian cucu Nabi Muhammad saw. Itu yang dikenal dengan memukul dada atau dalam bahasa Arabnya adalah ma’tam. Peringatan Asyura tidak sekadar mendengar kemudian pulang. Ma’tam yang dilakukan adalah upaya untuk meresapi lebih dalam kejadian itu. Meresapi kemazluman yang dilakukan atas cucu Nabi. Ketidakadilan yang harus ditentang. Dan itu harus dilakukan terlebih dahulu pada diri sendiri.

Seseorang yang memukul dadanya karena mengenang pembantaian di Karbala, bukannya berhenti pada usaha untuk mengenang. Tapi yang lebih penting adalah usaha untuk menerapkan apa yang tengah diperjuangkan oleh pemimpinnya. Sikap memukul dada adalah sikap penentangan terhadap kezaliman. Kezaliman yang tidak terbatas pada masa itu saja. Asyura adalah simbol penentangan atas ketidakadilan.

Beragamnya latar belakang mereka yang hadir dalam peristiwa Karbala membuat setiap orang dapat mengambil contoh dari mereka yang tepat dengan kondisi dirinya. Terkadang seseorang harus memerankan dirinya sebagai Ali Ashgar yang mengorbankan dirinya demi membangkitkan sebuah perlawanan. Kejadian tragis pemboman Qana, di mana anak-anak tewas karena kebuasan Israel, mampu membangkitkan kesadaran umat manusia. Serempak seluruh dunia mengutuk kejadian tersebut, sekalipun badan-badan dunia bungkam seribu bahasa.

Mengikuti acara Asyura berarti kita sedang melakukan pembenahan dan pembentukan diri. Pembentukan yang tidak hanya ada di alam khayal tapi dengan melihat contoh-contoh yang ada pada peristiwa Karbala.

Asyura adalah pembentukan dan pendidikan kognitif dan emosi manusia secara berimbang.

Bila menghadiri acara Asyura dapat membentuk kepribadian seseorang, maka dengan sendirinya peringatan Asyura adalah sebuah lembaga yang mampu membentuk masyarakat. Masyarakat yang bergerak berdasarkan nilai-nilai moral. Masyarakat yang meletakkan moral sebagai nilai yang harus diperjuangkan. Masyarakat yang siap mengorbankan dirinya demi menjaga nilai-nilai.

2. Menumbuhkan cinta kasih dan kepekaan sosial

Mengikuti dan memperingati acara Asyura untuk kembali mengenang orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah saw. Imam Husein as salah seorang yang paling dicintai oleh Nabi. Al-Quran memerintahkan kaum muslimin untuk mencintai keluarganya. Hadis-hadis dari Nabi sendiri memerintahkan kita untuk mencintai keluarganya.

Ungkapan cinta belum mampu membuktikan hakikat cinta. Cinta membutuhkan perhatian. Itulah mengapa Imam Ali as memerintahkan agar seorang Syi’ah hendaknya gembira dengan kegembiraan kami. Sedih karena kami sedih. Ini salah satu bukti cinta. Nabi pernah merasakan kesedihan, maka seyogianya seorang muslim untuk merasakan kesedihan itu.

Kejadian Karbala bukan saja merupakan kesedihan tapi di sana ada pembantaian salah satu manusia terbaik dunia. Mereka yang mengikuti acara Asyura adalah orang-orang yang diharapkan dapat merasakan kesedihan orang lain. Mengikuti acara Asyura berarti kita sedang melatih kepekaan sosial.

Kepekaan sosial tidak dapat ditumbuhkan hanya dengan ceramah. Kepekaan sosial perlu disosialisasikan. Kepekaan sosial perlu dipupuk dengan mengenang kemazluman manusia-manusia terbaik. Manusia-manusia yang menjadi contoh karena mengorbankan dirinya demi nilai-nilai mulia. Demi agama. Demi tauhid.

Bila kita mampu membangkitkan kepekaan itu sekalipun terhadap mereka yang masanya telah lama berlalu, diharapkan kepekaan itu cepat merespon ketimpangan yang ada saat ini.

Itulah mengapa ulama Syi’ah memfatwakan bahwa mengikuti acara-acara Asyura hukumnya sunah muakkadah, sunah yang ditekankan. Bahkan tidak itu saja, mereka menganjurkan agar anak-anak dan wanita juga perlu diikutkan. Karena kepekaan sosial ini harus ditumbuhkan di semua lapisan masyarakat. Perubahan jangan sampai hanya terjadi di atas dan tidak menyentuh lapisan bawah.

Dengan melihat dua manfaat yang bakal didapat oleh seseorang yang mengikuti acara Asyura. Bukan saja perayaan peristiwa Karbala tidak membuat orang frustasi dan tidak akan mengganggu stabilitas keamanan masyarakat, mengikuti acara Asyura dapat mendidik setiap orang untuk melakukan tugas dan kewajibannya di tengah-tengah masyarakat dengan baik. Kepekaan sosial seseorang akan semakin terasah dengan mengikuti acara Asyura.

Qom, 24 Januari 2007

Selasa, 23 Januari 2007

Al-Quran dan Imam Husein as


Al-Quran dan Imam Husein as
Mohsen Qaraati

Bila disebutkan bahwa al-Quran merupakan “Sayyid al-Kalam”, penghulu ucapan (Majma al-Bayan, Juz 2, hal 361), maka Imam Husein as adalah Sayyid as-Syuhada, penghulu para syahid (Kamil az-Ziyarah, hal 70).

Bila dalam Shahifah Sajjadiyah, doa ke 42, ada doa tentang al-Quran yang berbunyi “Mizan Qisth”, timbangan keadilan, dalam doa ziarah Imam Huzein as juga terdapat ungkapan “Asyhadu Annaka Qad Amarta Bil Qisth”, aku bersaksi bahwa engkau telah memerintah dengan keadilan (Jami’ al-Ahadits as-Syi’ah, juz 12, hal 481).

Bila al-Quran dianggap sebagai “Mau’izhatun Min Rabbikum”, nasihat dari Rabb kalian, (Yunus: 57), Imam Husein as pada hari kesepuluh, Asyura, mengatakan: “Jangan kalian tergesa-gesa melakukan sesuatu, hingga aku menasihati kalian dengan kebenaran! (Lawa’ij al-Asyjan, hal 26).

Bila al-Quran mengajak manusia ke arah kedewasaan dan kesempurnaan “Rusyd” (Jin: 2), Imam Husein as juga berkata: “Aku mengajak kalian menuju jalan kedewasaan dan kebahagiaan “Rasyad” (Lawa’ij al-Asyjan, hal 128).

Bila al-Quran disifati dengan kata “Azhim”, yang agung (Hijir: 87), Imam Husein as juga memiliki masa lalu yang agung “Azhim as-Sawabiq” (al-Bihar, jilid 98, hal 239).

Bila al-Quran adalah kebenaran yang pasti dan yakin “Wa Innahu Lahaqqul Yaqin” (al-Haqah: 51), dalam doa ziarah terhadap Imam Husein as ditemukan potongan kalimat yang menjelaskan bagaimana Imam Husein beribadah dengan ikhlas, hingga mencapai derajat yakin “Hatta Ataka al-Yaqin” (Kamil az-Ziyarah, hal 202).

Bila al-Quran adalah sebaik-baik pemberi syafaat “Ni’ma as-Syafi’u al-Quran” (Nahjul Fashahah, ucapan ke 833), Imam Husein as juga memiliki posisi pemberi syafaat “Warzuqni Syafa’ah al-Husein”, anugerahkan aku syafaat Imam Husein as (Ziarah Asyura).

Bila kita membaca doa ke 42 dari Shahifah Sajjadiyah yang menyifati al-Quran sebagai bendera keselamatan “Alam an-Najah”, hal yang sama dapat kita temukan dalam doa ziarah terhadap Imam Husein as bahwa beliau adalah bendera keselamatan dan hidayah “Annahu Rayah al-Hidayah” (Kamil az-Ziyarah, hal 70).

Bila al-Quran adalah penyembuh “Ma Huwa Syifa” (al-Isra’: 82), tanah dan turbah Imam Husein as juga merupakan penyembuh “Thin Qabr al-Husein Syifa Min Kulli Da’in” (Man Laa Yahdhuruhu al-Faqih, jilid 2, hal 446).

Bila al-Quran memiliki sifat menara kebijakan “Manarah al-Hikmah” (al-Hayah, jilid 2, 140), Imam Husein as juga merupakan pintu kebijakan ilahi “Assalamu ‘Alaika Yaa Bab Hikmati Rabbil Alamin” (Mafatih al-Jinan).

Bila al-Quran memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar “Fal Quran Amirun wa Zajirun” (Nahjul Balaghah, khutbah ke 182), Imam Husein as berkata: “Tujuan saya berangkat ke Karbala untuk memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar” (Sumuw al-Ma’na Fi Sumuw az-Dzat, hal 96).

Bila al-Quran adalah cahaya yang jelas “Nuran Mubina” (an-Nisa’: 174), Imam Husein as juga adalah nur dan cahaya “Kuntu Nuran Fi al-Ashlab as-Syamikhah” (Kamil az-Ziarah, hal 230).

Bila al-Quran diturunkan untuk seluruh zaman dan seluruh umat manusia “Lam Yuj’al al-Quran Li Zamanin Wa La Linasin Duna Nasin” (Safinah al-Bihar, jilid 2, hal 413), berkaitan dengan Imam Husein as juga demikian. Sejarah Karbala dan Asyura tidak akan pernah musnah dan senantiasa abadi, “La Yudrasu atsaruhu Wa La Yumha Rasmuhu” (Maqtal Muqarram, hal 397).

Bila al-Quran adalah buku yang memiliki berkah “Kitabun Anzalna Ilaika Mubarakun” (Shad: 29), pembantaian dan syahadatnya Imam Husein as juga merupakan berkah bagi perkembangan Islam, “Allahumma Fa Barik Lii Fi Qatlihi” (Maqtal Kharazmi, jilid 1, hal 164, ucapan ini dari Nabi Muhammad saw).

Bila dalam al-Quran tidak ada penyimpangan “Ghairi Dzi ‘Iwaj” (az-Zumar: 28), Imam Husein as tidak pernah sedetik pun berpaling dari kebenaran “Lam Tamil Min Haqqin Ila Bathilin” (Furu’ al-Kafi, jilid 4, hal 561).

Bila salah satu nama dari al-Quran adalah mulia “Innahu Laquranun Karim” (al-Waqi’ah: 77), Imam Husein as juga memiliki sifat dan akhlak yang mulia “Wa Karim al-Khala’iq” (Naf sal-Mahmum, hal 7).

Bila al-Quran memiliki sifat mulia “Wa Innahu Laquranun Aziz” (Fusshilat: 41), pada saat yang sama Imam Husein as punya slogan bahwa ia tidak akan pernah menerima kehinaan “Haihata Minna az-Dzillah” (al-Luhuf, hal 54).

Bila al-Quran merupakan tali penghubung yang kokoh untuk menyelamatkan manusia “al-‘Urwah al-Wutsqa” (al-Bihar, jilid 92, hal 31), Imam Husein as juga merupakan penyelamat manusia dan tali penghubung yang kokoh “Inna al-Husein ... Safinah an-Najah Wa al-‘Urwah al-Wutsqa” (Partu Az Azemate Husein, hal 6).

Bila al-Quran adalah bayyinah dan argumentasi yang jelas “Jaakum Bayyinatun Min Rabbikum” (al-An’am: 157), Imam Husein as juga merupakan bayyinah dan argumentasi yang jelas “Asyhadu Anaka Ala Bayyinatin Min Rabbika” (Furu’ al-Kafi, jilid 4, hal 565).

Bila membaca al-Quran diperintahkan untuk membacanya dengan tartil, teratur dan penuh kekhusyu’an “Wa Rattil al-Quran Tartila” (al-Muzammil: 4), hal yang sama ketika seseorang ingin menziarahi kuburan Imam Husein as hendaknya dengan langkah yang teratur dan penuh ketundukan kepada Allah “Wamsyi Bi Masy al-Abidi az-Dzalil” (Kamil az-Ziyarah, hal 221).

Bila al-Quran harus dibaca dengan kesedihan dan penghayatan yang dalam “Faqrauhu Bil Huzni” (Wasail as-Syi’ah, jilid jilid 4, hal 857), dalam hal membaca ziarah terhadap Imam Husein as diharapkan membacanya dengan perasaan sedih dan penghayatan yang mendalam “Fazurhu Wa Anta Kaib Syu’ats” (Kamil az-Ziyarah, hal 131).

Benar, Imam Husein as adalah al-Quran Nathiq, implementasi hidup dari kandungan al-Quran! [Saleh Lapadi]