Minggu, 18 Februari 2007

Manusia dan Kematian


Manusia dan Kematian

Emi Nur Hayati Ma’sum Said

Kematian adalah sebuah fenomena yang ada di dunia ini. Kapan saja dan di mana saja diperlukan, ia harus menjemput manusia untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Dengan jemputan kematian, ruh manusia harus berpisah dengan badannya. Dengan kata lain, kematian adalah jembatan yang harus dilalui oleh manusia untuk menuju dunia lain dari dunia fana ini. Satu masa seseorang hidup bersama kita, namun bila kematian menjemputnya maka ia harus meninggalkan dunia ini dengan tanpa kembali lagi. Kita telah banyak menyaksikan keluarga dan sanak famili kita sendiri telah meninggalkan dunia ini dan tidak kembali.

Namun, mengapa sebagian manusia tidak berpikir bahwa kematian ini akan menjemputnya juga? Padahal, ia sering menyaksikan orang lain yang ajalnya sudah ditentukan telah dijemput oleh kematian? Atau sama sekali ia tidak berpikir kalau kematian satu saat bakal menjemputnya? Meskipun ia mempercayainya, akan tetapi ia merasa takut dan lari dari kematian. Untuk membuka teka-teki ini, penulis ingin mengkaji urgensi kematian menurut al-Quran dan hakikatnya menurut ucapan para Imam Maksum a.s. dan sebab ketakutan manusia dari kematian dan jalan keluarnya serta pengaruh dan manfaat mengingat kematian.

Kematian adalah berpisahnya ruh dari badan. Badan akan rusak secara keseluruhan sementara ruh akan meneruskan kehidupannya yang abadi setelah mengalami perpisahan dengan badan. Allah berfirman dalam ayat-Nya: “Pada hari ketika tiap- tiap diri mendapati segala kebaikan dihadapkan (di mukanya), begitu juga (kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba- hamba- Nya”. [1]

Bila manusia senantiasa sadar bahwa dunia ini hanya ladang untuk menanam amal kebaikan, dan akhirat adalah tempat untuk hidup abadi, sama sekali ia tidak akan berbuat curang dan penipuan. Imam Ali a.s. dalam hal ini berkata: “orang yang memahami akhir kehidupannya, ia tidak akan berbuat curang dan penipuan. [2]

Kematian merupakan sebuah keharusan

Setiap manusia yang menginjakkan kakinya di muka bumi, pasti akan merasakan kematian. Karena kematian adalah sebuah kepastian, di mana tidak seorang pun bisa menghindarinya. Dalam hal ini Allah menjelaskan dengan baik, dalam ayat-ayat-Nya: “Tiap- tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan”. [3]

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. [4]

Katakanlah:" Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) , yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [5]

“Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar- benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. [6]

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad ), maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal”.[7]

Pada hakikatnya, manusia di dunia ini tidak hidup secara abadi. Pada waktu tertentu ia harus meninggalkan dunia. Manusia tidak mampu menolak kedatangan kematian atas dirinya. Di mana saja ia berada kematian pasti akan menjemputnya. Manusia tidak mungkin lari dari kematian yang mendatanginya.

Kematian dalam ucapan Rasulullah saw.

“Kematian bagiku bagaikan minuman segar di siang hari yang sangat panas”. [8]

“Meninggalnya manusia dari dunia ini bagaikan keluarnya bayi dari kandungan ibunya, di mana ia keluar dari suasana yang gelap, sempit dan tekanan menuju suasana yang terang, luas dan nyaman”. [9]

Imam Husein a.s. mengatakan: “Kematian adalah kebahagiaan yang paling besar yang mendatangi manusia” kemudian beliau melanjutkan: “Kematian adalah pelepas dahaga dan pelepas kesusahan setiap mukmin, sebaliknya bagi orang kafir, kematian adalah perpindahan dari istana menuju penjara”. [10]

Imam Baqir a.s. berkata: “Kematian adalah tidur yang mendatangi kalian setiap malam hanya saja masanya panjang”. [11]

Kematian bagi seorang mukmin adalah kebahagiaan, kesenangan dan ketenangan, di mana manusia dalam hidupnya senantiasa mencari-cari kesenangan dan ketenangan itu sendiri, yang senantiasa dicari-carinya. Kalau Rasulullah memosisikan kematian setara dengan minuman segar, bagaikan bayi yang keluar dari perut ibunya. Kalau para imam memosisikan kematian sebagai ketenangan dan kebahagiaan, karena memang manusia di dunia ini materi pun senantiasa mencari-carinya, apalagi untuk kehidupan yang abadi. Lantas mengapa manusia takut akan kematian? Sebenarnya karena dosa-dosa yang diperbuatnyalah sehingga ia takut mati. Sementara, orang mukmin karena pengetahuannya akan kematian dan hidup setelah mati, ia menyiapkan dirinya dan menyambut kedatangan kematian.

Faktor-faktor penyebab ketakutan manusia akan kematian dan jalan keluarnya

Ketakutan manusia akan kematian berakar pada kecintaannya akan kehidupan abadi. Manusia yang takut akan kematian bisa dibagi menjadi dua kelompok:

Pertama; manusia yang tidak memiliki keyakinan akan hidup setelah mati dan Hari Kiamat. Mereka berkeyakinan bahwa kehidupan yang ada ini semata-mata kehidupan materi, sehingga kematian yang mereka saksikan adalah sebagai akhir dari kehidupan ini. Dan ia benci dengan kematian, karena dengan kematian hidup dan aktivitas hidupnya terhenti.

Kedua; manusia pemeluk agama-agama ilahi, hanya saja mereka tidak memiliki keyakinan pasti akan keberlangsungan ruh dan kehidupan setelah mati. Oleh karena itu, mereka takut akan kematian. [12]

Berkaitan ketakutan manusia akan kematian, bisa dikaji pada beberapa faktor:

1. Adanya kemungkinan bahwa dengan kematian kemanusiaan dan hidupnya akan tercabut. ini berakar pada tidak adanya keyakinan akan kehidupan setelah mati dan Hari Kiamat. Jalan keluarnya dan cara penyembuhan dari ketakutan ini adalah manusia hendaknya belajar tentang prinsip-prinsip akidah dan menguatkannya dengan argumentasi-argumentasi rasional sehingga ia bisa meyakini bahwa setelah kepergian manusia dari alam yang fana ini, ada dunia lain yang akan dilaluinya. [13]

2. Kecintaan dan ketergantungan yang dahsyat kepada dunia. Kecintaan kepada dunia adalah pemisah antara manusia dengan Tuhannya. Sehingga berpisah dari dunia baginya sangat sulit. Kecintaan kepada dunia berakar pada keyakinannya bahwa dunia adalah tempat tinggal yang hakiki. Jalan keluarnya; perkuat hubungan dengan dirinya dengan kehidupan akhirat dan cintailah Allah dan Rasul serta ahlul baitnya dan jangan semata-mata hidup hanya untuk dunia yang fana ini. [14]

3. Kematian, adalah pemisah antara manusia dengan derajat dan kedudukannya, pemisah antara manusia dengan keluarga dan sanak kerabatnya.[15] Jalan keluarnya; bertafakur tentang kehidupan setelah mati dan ketergantungan kepada mereka tidak ada nilainya.

4. Dengan kematian, seseorang berpikir bahwa keluarganya tidak memiliki pengayom dan mengalami kesulitan. Pemikiran semacam ini berakar dari tidak adanya tawakal kepada Allah bahwa Dia adalah pemberi rezeki makhluk-makhluk-Nya.[16] jalan keluarnya; selain harus bertawakal kepada Allah, hendaknya melihat kenyataan bahwa orang yang sukses menghadapi hidup juga mencakup anak-anak yang sejak kecil ditinggal mati ayahnya, bahkan orang-orang yang hidupnya mewah dan kedua orang tua mereka masih hidup tidak memiliki keberhasilan dalam hidupnya.

5. Tidak memiliki bekal kebaikan, catatan amalnya kosong dari amal kebaikan dan penuh dengan amal kejelekan.[17] Dengan kata lain, ia membangun dunianya dengan baik tetapi merusak akhiratnya. Sehingga dia tidak mau keluar dari tempat yang indah menuju tempat yang porak-poranda. Jalan keluarnya; bertaubat dan beramal saleh. Dalam hal ini Allah berfirman: Katakanlah: "Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar* Mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang- orang yang lalim”. [18]

Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: “Ya Rasulullah! Mengapa saya takut akan kematian? Beliau bertanya: “Apakah kamu punya harta kekayaan?” ia menjawab: “Iya” Rasul bertanya: “Apakah kamu menyiapkan bekal akhiratmu?” ia menjawab: “Tidak!”. Rasulullah menjawab: “Sebab inilah kamu takut mati”.[19]

Dalam sebuah pertemuan dengan Imam Hasan a.s. seseorang bertanya: “Wahai putra Rasulullah! Mengapa kita takut akan kematian?” Beliau menjawab: “karena kalian telah merusak akhirat kalian dan membangun dunia kalian” sebab itulah kalian takut meninggalkan apa yang kalian bangun menuju kehancuran”. [20]

Pengaruh mengingat kematian

Ada beberapa pengaruh dalam diri manusia, jika ia mau mengingat kematian: [21]

1. Kemauan hawa nafsunya akan menurun dan padam.

2. Manusia akan bangun dari kelalaian.

3. Hati manusia menjadi kuat dengan janji-janji Allah.

4. Mengurangi selera manusia.

5. Manusia tidak akan rakus.

6. Dunia baginya tidak berarti.

7. Dengan mengingat kematian, seseorang tidak cenderung kepada dunia. Imam Shadiq a.s. dalam hal ini berkata: “perbanyaklah mengingat kematian! Karena tidak ada manusia yang memperbanyak mengingat kematian melainkan orang yang tidak condong kepada dunia. [22]

8. Orang yang banyak mengingat kematian, hatinya akan dihidupkan oleh Allah dan dimudahkan baginya masa-masa sakratulmaut. [23]

Kesimpulannya, dengan mengingat kematian manusia akan selamat dari kejelekan, karena hatinya senantiasa hidup dan jauh dari kelalaian. Dan tidak cenderung kepada gemerlapan duniawi.


[1] . QS, Al-Imran: 30.

[2] . Nahjul Balghah, Khutbah 14.

[3] . QS, Ali Imran: 185.

[4] . QS, An-Nisa: 78.

[5] . QS, Al-Jum’ah: 8.

[6] . QS, Qaaf: 19.

[7] . QS, Al-Anbiya’: 34.

[8] . Safinah Al-Bihar, jilid 2, hal 553.

[9] . lihat: Nahjul Fashohah, kalimat ke 2645.

[10] . Mahajjah Al-Baidho’, jilid 8, hal 255.

[11] . Ibid.

[12] . Lihat: Goftar-e Falsafi; Ma’ad Az Nazar-e Ruh wa Jesm, Muhammad Taqi Falsafi, hal 172.

[13] . Ringkasan Mi’raj As-Sa’adah, Ahmad Naraqi, tahqiq, Ahmad Ahmad Birjandi, hal 67.

[14] . Insan az Marg ta Barzakh, Nikmatullah Salehi Haji Abady, hal 33.

[15] . Hayat-e Javedani, Amir Devany, hal 135.

[16] . Ringkasan Mi’raj As-Sa’adah, hal 69.

[17] . Tafsir Namunah, Makarim Shirazy, jilid 24, hal 122.

[18] . QS, Al-Jum’ah: 6-7.

[19] . Muntkhab Mizan Al-Hikmah, Muhammad Ray Shahry, hal 470.

[20] . Bihar Al-Anwar, jilid 6, hal 129.

[21] . Muntkhab Mizan Al-Hikmah, hal 928, hadis ke 5859.

[22] . Muntkhab Mizan Al-Hikmah, hal 469, hadis ke 5860.

[23] . Ibid, hadis ke 5857.

Sabtu, 17 Februari 2007

Ibu yang mengingkari anaknya


Ibu yang mengingkari anaknya

Al-Kulaini meriwayatkan hadis ini di bab Nawadir di akhir kitab Qadha (peradilan) dengan sanad dari ‘Ashim bin Hamzah as-Saluli. Syaikh (at-Thusi) meriwayatkan hadis ini dalam Ziayadat Qadhaya Tahdzibiyah (Tambahan dalam masalah peradilan dari buku Tahdzib) dari Dhamrah bin Hamzah as-Saluli.

Ia berkata:

“Aku mendengar teriakan seorang anak muda di kota Madinah. Ia berkata: “Adakah orang yang paling adil di sini? Orang yang dapat memutuskan perkaraku dengan ibuku”.

Umar bin Khatthab menghampirinya dan berkata: “Wahai pemuda! Mengapa engkau ingin mengajukan perkara atas ibumu?

Ia menjawab: “Sebelumnya aku berada di dalam tubuh ibuku selama sembilan bulan. Ia juga yang menyusui aku selama dua tahun. Ketika aku mulai beranjak dewasa; dapat membedakan kebaikan dari keburukan dan mana yang benar dan salah, ia mencampakkan aku. Ia mengaku tidak mengenal diriku”.

Umar kemudian bertanya kepada wanita itu: “Wahai wanita! Benarkah apa yang diucapkan oleh pemuda ini?”

Wanita itu menjawab: “Demi Zat yang bertirai cahaya. Tidak ada mata yang dapat melihat-Nya. Demi kebenaran yang dibawa oleh Muhammad saw! Aku tidak punya anak dan aku tidak mengenalnya. Aku tidak tahu dia dari kabilah mana. Ia hanya seorang pemuda yang ingin merusak kehormatanku di tengah-tengah keluarga dan familiku. Aku seorang wanita Quraish. Aku belum pernah kawin”.

Umar bertanya kepadanya: “Apakah engkau memiliki saksi?”

Ia menjawab: “Iya, mereka ini adalah saudara-saudaraku”. Datang sekitar empat puluh orang dari keluarganya yang siap untuk bersumpah. Di hadapan umar mereka kemudian bersumpah bahwa si pemuda hanya berniat untuk merusak kehormatan wanita ini. Wanita ini dari keturunan Quraish dan belum menikah sekalipun.

Umar bin Khatthab memerintahkan pengawalnya untuk membawa si pemuda ke penjara. Dan selama ia dipenjara para saksi yang telah bersumpah tadi harus diperiksa lebih lanjut. Bila kesaksian mereka benar, maka si pemuda harus dihukum sebagai orang yang telah melakukan kebohongan yang mencemarkan nama baik orang lain.

Ketika mereka bergerak membawa si pemuda, mereka berpapasan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as. Si pemuda langsung berteriak lantang memohon kepada Imam Ali as: “Wahai anak paman Rasulullah! Aku seorang pemuda yang teraniaya”. Ia kemudian mengulangi ucapan yang telah disampaikan di hadapan Umar. Kemudian ia melanjutkan: “Umar memerintahkan pengawal agar menjebloskan aku ke penjara”.

Imam Ali as menjawab: “Balikkan ia ke Umar!”

Ketika si pemuda dibawa ke hadapan Umar, Khalifah Umar kemudian bertanya kepada mereka: “Aku memerintahkan kalian untuk menjebloskannya ke penjara, mengapa sekarang kalian membawanya kembali ke hadapanku?”

Mereka menjawab: “Ali bin Abi Thalib yang memerintahkan kepada kami untuk membawanya ke hadapanmu. Mengapa kami mengikuti perintahnya? Karena engkau pernah berkata bahwa ikuti apa saja yang diperintahkan oleh Ali dan jangan menentangnya”.

Ketika mereka masih bercakap-cakap, Imam Ali as datang menghampiri mereka.

Ia berkata: “Hadapkan ibu si pemuda ini!”

Mereka lantas menghadirkan kembali ibu si pemuda.

Imam Ali as berkata: “Wahai pemuda! Sampaikan apa yang hendak engkau ucapkan!”

Si pemuda mengulangi apa yang telah disampaikannya sebelumnya.

Imam Ali kemudian berkata kepada Umar: “Apakah engkau memberi aku izin untuk mengadili mereka?”

Umar menjawab: “Subhanallah, mengapa tidak. Aku pernah mendengar dari Rasulullah saw bahwa “Yang paling alim dan mengetahui di antara kalian adalah Ali bin Abi Thalib”.

Imam Ali as kemudian berpaling kepada wanita dan bertanya: “Apakah mereka ini adalah saksi-saksimu?”

Wanita itu menjawab: “Iya, mereka adalah saudara-saudaraku”.

Imam Ali as bertanya kepada saudara-saudaranya: “Apakah kalian menerima aku menghukumi urusan kalian antara kalian dan wanita ini?”

Mereka serempak menjawab: “Iya, wahai anak paman Rasulullah. Engkau menjadi wakil yang menghukumi antara kami dan saudari kami”.

Imam Ali as kemudian berkata: “Aku bersaksi di hadapan Allah dan aku bersaksi di hadapan orang-orang yang hadir saat ini. Aku telah menikahkan pemuda ini dengan wanita ini dengan mas kawin sebesar empat ratus dirham dari uangku sendiri. Wahai Qanbar (pelayan Imam Ali as), Ambilkan uangku!” Qanbar membawa uang Imam Ali as dan meletakkannya di tangan si pemuda.

Imam Ali as melanjutkan: “Ambillah uang itu wahai pemuda! Berikan uang ini kepada wanita itu. Jangan engkau menghadapku kecuali telah mandi junub”.

Si pemuda bangkit dan memberikan uang mas kawinnya kepada wanita itu. Kemudian ia mengajak wanita itu untuk meninggalkan tempat tersebut. Ia berkata: “Wanita ini telah menjadi keluargaku”.

Si wanita tiba-tiba berteriak: “Neraka, neraka, wahai anak paman Muhammad! Apakah engkau ingin aku mengawini anakku sendiri? Pemuda ini adalah anak dari suamiku. Saudara-saudaraku memaksaku untuk kawin dengan seseorang. Setelah aku melahirkan anakku dan setelah ia menjadi dewasa, mereka mengancamku agar mengusirnya dan tidak mengakuinya sebagai anak. Demi Allah! dia adalah anak dan jantung hatiku”.

Ibu itu kemudian menarik tangan anaknya dan pergi dari tempat itu.

Umar bin Khatthab kemudian dengan suara lantang berkata: “Tolong dirimu wahai Umar! Bila tidak ada Ali, niscaya celakalah Umar” (Lau Laa Ali La Halaka Umar).”

Hadis ini juga diriwayatkan oleh penulis buku Fadhail Ibnu Syadzan dari al-Waqidi dari Jabir dari Salman dengan sedikit perbedaan dalam ibarat.[infosyiah]

Sumber: Allamah Muhammad Taqi at-Tustari, Qadhau Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as, Qom, 1408 HQ, cetakan ke-2.

Selasa, 13 Februari 2007

Kecemerlangan Ibnu Rusyd dalam filsafat Paripatetik


Kecemerlangan Ibnu Rusyd dalam filsafat Paripatetik

Ghulam Hossein Ebrahimi Dinani

Buku pemenang pertama festival buku Iran tahun yang ke 24, tahun ini (1385), dalam kategori filsafat Islam.

Di dunia Islam, filsafat telah melalui berbagai macam periode. Perjalanan filsafat Islam dimulai secara resmi di abad ke dua dan tiga Hijriyah, berbarengan dengan penerjemahan karya-karya pemikir Yunani. Sebelumnya, sekalipun kajian teologi cukup digandrungi, namun filsafat tidak memiliki posisi tersendiri. Filosof muslim pertama adalah Abu Ishaq al-Kindi (185-260 H).

Abu Nasr al-Farabi adalah filosof pertama yang mengonsep filsafat Islam. Al-Farabi selama hidupnya berusaha untuk mengharmoniskan ide-ide Plato dan Aristoteles. Ia sebagaimana mayoritas pemikir muslim lainnya, salah menganggap buku Otologia tulisan Plotinus sebagai milik Aristoteles. Itulah mengapa tanpa disadarinya ia terpengaruh Neo Platonisme. Farabi termasuk penggagas filsafat Paripatetik yang pada akhirnya berhadap-hadapan dengan filsafat-irfani Syaikh Maqtul Suhrawardi. Abu Ali Sina adalah salah satu filosof lain yang digabungkan pada aliran filsafat Paripatetik. Dengan kejeniusannya, iamenuangkan ide-idenya kedalam tulisan-tulisan filsafatnya. Ia juga berhasil mendidik muridnya Bahmaniyar menjadi salah satu pemikir berbakat dalam filsafat Paripatetik.

Masa keemasan filsafat Paripatetik berada di tangan Ibnu Sina. Ini membuat filsafat menjadi faktor penentu budaya dan penentu ilmu-ilmu yang lain. Dengan Ibnu Sina, para teolog dan arif menjadi tertantang. Para arif, yang menganggap argumentasi falsafi bak tongkat kayu yang rapuh, mulai kasak-kusuk untuk menjauhkan filsafat dari kaum muslimin. Mereka mengatakan bahwa jalan terdekat dan satu-satunya cara untuk mengenal al-Haq adalah dengan membersihkan hati dan ibadah. Filsafat hanya akan membuat orang jauh dari jalan yang sebenarnya.

Di sisi lain, para teolog juga tidak dapat menerima filsafat. Mereka berpendapat bahwa apa yang diungkapkan oleh para filosof muslim bertentangan dengan al-Quran dan Hadis, bahkan Islam menolak filsafat. Salah satu ahli teolog besar yang menetang keras filsafat adalah Abu Hamid al-Ghazali. Ghazali yang dipengaruhi oleh pemikiran tasawwuf menyebutkan bahwa dalam 20 pendapat Ibnu Sina bertentangan dengan Islam dan dalam tiga pandangannya telah sampai pada batas kafir. Tiga pandangan Ibnu Sina yang dianggap kafir oleh Ghazali adalah:

1. Keyakinan akan qidamnya alam.

2. Pengingkaran akan ilmu Allah atas obyek-obyek parsial dan kasuistik.

3. Pengingkaran terhadap hari kebangkitan manusia dengan jasad.

Setelah Ghazali, pemikir yang paling menentang filsafat adalah Fakhruddin ar-Razi. Ia meyakini bahwa ide-ide filsafat Paripatetik dan semua terjemahan pemikiran Yunani membuat agama menjadi kering. Penentangan terhadap filsafat dan pembakaran buku-buku filsafat membuat filsafat Islam mengalami kemunduran.

Sejarawan Barat dan mereka yang memandang filsafat Islam dengan kaca mata Barat, menganggap bahwa kemunduran filsafat Islam di belahan timur dunia Islam menjadikan filsafat secara umum telah musnah di kawasan itu. Sekalipun anggapan ini tidak benar sepenuhnya, namun dapat menunjukkan semangat penentangan terhadap filsafat. Hebatnya penentangan yang dilakukan oleh para arif dan teolog membuat tidak ada lagi filosof yang muncul dari kawasan timur dunia Islam.

Ketika filsafat mengalami kemunduran di kawasan timur, muncul beberapa filosof di kawasan Barat. Mereka adalah Ibnu Bajah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd. Ibnu Bajah mengkonsentrasikan ide-idenya untuk melawan tasawwuf. Ia menganggap tasawwuf sendiri sebagai hijab dan penutup manusia dari kebenaran. Kebalikan dari cara pandang urafa, Ibnu Bajah menganggap satu-satunya jalan untuk mengenal adalah filsafat. Karena filsafat tidak dicampuri oleh segala macam kelezatan fisik. Ia menambahkan bahwa kemungkinan inilah yang membuat para filosof diasingkan oleh masyarakat yang bodoh.

Setelah Ibnu Bajah, muncul Ibnu Thufail dengan kisah monumentalnya Hayyu bin Yaqzhan. Kisah itu membuatnya terkenal. Dalam cerita falsafinya itu ia berusaha untuk membuktikan bahwa manusia dengan akalnya dapat mengenal Allah. Kemampuan itu dapat diraih sekalipun tanpa bantuan wahyu dan Nabi. Cerita ini sangat mendapat perhatian Barat, sehingga mereka menerjemahkannya dalam berbagai bahasa. Semua peneliti mengetahui bahwa Daniel Defoe yang menciptakan tokoh Robinson Crusoe benar-benar dipengaruhi oleh ide Ibnu Thufail.

Sebegitu terkenalnya kedua pemikir ini, masih di bawah bayang-bayang Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd (520-595 H). Hal itu karena pengaruh Ibnu Rusyd lebih kuat dari keduanya. Ibnu rusyd seperti tokoh-tokoh filsafat Paripatetik lainnya, senantiasa berusaha untuk mengharmoniskan antara filsafat dan agama. Selain itu, ia juga menulis buku "Tahafut at-Tahafut" untuk menjawab tulisan Ghazali "Tahafut al-Falasifah". Dalam membela pemikiran filsafat, ia sampai pada kesimpulan bahwa hanya filosof saja yang mengetahui rahasia-rahasia al-Quran dan yang berhak untuk mentakwilkannya. Ibnu Rusyd menganggap bahwa kritikan Ghazali terhadap filsafat muncul karena Ibnu Sina tidak mampu menjelaskan filsafat sebagaimana yang dijelaskannya. Dengan itu, sebenarnya, bukan saja Ibnu Rusyd melakukan menjawab kritikan Ghazali tapi sekaligus mengkritik ibnu Sina.

Perbedaan ibnu Rusyd dengan farabi dan Ibnu Sina pada pengaruh ide-ide Neo Platonisme. Ia lebih sedikit dipengaruhi oleh ide Neo Platonisme. Ia menolak ide penciptaan dari tiada dan menetapkan keabadian materi. Ia menulis syarah buku-buku Aristoteles yang sampai saat ini masih dikaji oleh pengamat pikiran-pikiran Aristoteles. Begitulah William David Rush peniliti pikiran-pikiran Aristotels dalam buku-bukunya masih mempergunakan penjelasan Ibnu Rusyd. Dengan syarah-syarahnya atas buku Aristoteles pemikirannya banyak di kaji di Barat. Ernest Renan menganggapnya orang yang bebas. Sebelum menetapkan sebuah istilah ia adalah seorang yang bebas dalam berpikir. Pengaruh Ibnu Rusyd di Barat dapat juga dilacak lewat tulisan-tulisan pemikir Barat pada abad pertengahan yang menimbulkan semakin luasnya ide Rasionalisme di Barat. Ironisnya, pengaruhnya di Barat tidak sepadan dengan respon kaum muslimin di kawasan timur dunia Islam. Pengaruh tasawwuf yang cukup kuat membuat pikiran-pikiran filsafat Ibnu Rusyd tidak dikenal orang di sana.

Denga penjelasan yang lebih detil, pada periode ini perjalanan filsafat Islami ada ketaktertautan yang menganga. Di satu sisi, Ibnu Rusyd tidak dikenal oleh kaum muslimin dan di sisi lain, dengan meninggalnya ibnu Rusyd Barat menganggap filsafat islam telah tutup mata dan musnah. Akhirnya, filosof seperti Suhrawardi, Khajah Nashiruddin at-Thusi, Mir Damad dan Mulla Shadra tidak dikenal.

Buku "Kecemerlangan Ibnu Rusyd dalam filsafat Paripatetik" (Derakhshesh-e Ibnu Rusyd Dar Falsafe-ye Massha), merupakan buku dalam bahasa Parsi yang secara terperinci membahas ide-ide filsafat Ibnu Rusyd. Profesor Ghulam Hossein Ebrahimi Dinani, dengan pengalaman bertahun-tahun mengajar dan menulis berusaha untuk memperkenalkan kecemerlangan pemikiran Ibnu Rusyd yang tidak terlalu dikenal di dunia Islam. Ia menyebutkan:

"Ibnu Rusyd begitu terkenal di pusat-pusat penelitian dunia. Di antara filosof Iran ia tidak begitu dikenal. Bukan omong kosong bila ada yang mengatakan bahwa selama delapan abad setelah meninggalnya ibnu Rusyd, belum ada buku berbahasa Parsi yang ditulis menjelaskan pemikirannya. Inilah yang mendorong penulis untuk menulis buku ini. Penulis berusaha untuk membahas dan menganalisa pikiran-pikiran Ibnu Ruysd. Sekaligus sebagai buku pertama bahasa Parsi yang ditulis dalam rangka mengkaji secara terperinci pemikiran Ibnu Rusyd."

Kecemerlangan Ibnu Rusyd dalam filsafat Paripatetik dimulai dengan kata pengantar yang cukup panjang. Karena di sana, dibahas juga tentang hubungan antara filsafat Islam dengan filsafat Yunani. Di akhir kata pengantar ini, Ibnu Rusyd diperkenalkan sebagai filosof yang mengikuti ide-ide Aristoteles dan membela pemikiran Yunani.

Dinani menganggap bahwa Kebanyakan filosof muslim, terutama Farabi dan Ibnu Sina, dalam mengkaji ide-ide Aristoteles tidak mengambil sikap pasif, namun aktif melakukan kritik. Dengan alasan ini, kedua filosof ini tidak murni menganut pikiran Aristoteles. Pikiran filsafat mereka dipengaruhi Plato, Neo Platonisme dan pikiran mereka sendiri yang muncul ketika mereka melakukan kritik terhadap pikiran Aristoteles. Atas dasar inilah, Ibnu Rusyd menganggap ibnu Sina telah keluar dari bingkai pemikiran Aristoteles. Ebrahimi Dinani meyakini kebenaran tuduhan Ibnu Rusyd terhadap ibnu Sina. Namun, itu tidak berarti kekurangan ibnu Sina, melainkan untuk menunjukkan kebebasan berpikir dari Ibnu Sina. Dan di situlah kelebihan ibnu Sina. Dengan melihat penilaian Ibnu Rusyd atas Ibnu Sina dapat diketahui bahwa ia benar-benar sebagai perwakilan pemikiran Aristoteles.

Bab pertama buku ini "Pengaruh pemikiran Ibnu Ruysd dan Ibnu Sina terhadap karya-karya filsafat Barat di abad pertengahan". Dalam bab ini, Dinani membeberkan juga bagaimana Ibnu Ruysd dipengaruhi oleh ide-ide pemikir Islam sebelumnya. Selain itu, penulis juga menjelaskan pengaruh pemikiran Ibnu Rusyd selama empat abad dalam pemikiran Barat. Ia membawakan dialog antara pemikiran Ibnu Ruysd dengan para pendeta.

Karya ibnu Rusyd pertama kalinya diterjemahkan ke bahasa latin pada abad tiga belas. Bukunya diajarkan dan menjadi primadona di universitas-universitas Eropa. St. Aquinas pemikir paling terkenal di abad pertengahan yang dipengaruhi oleh ide-ide ibnu Rusyd. Di kalangan Yahudi yang terpengaruh pemikiran Ibnu Ruysd seperti; Musa bin Maimun, Yossef bin Yahuda dan pemikir-pemikir Yahudi Andalusia. Mereka menyebut Ibnu Rusyd sebagai semangat dan akal Aristoteles.

Bab kedua "Hakikat ganda atau dua hal yang dicerap dari hakikat yang satu". Bab kedua ini membicarakan tentang substansi hakikat menurut pandangan Ibnu Rusyd. "Hakikat ganda" atau "hakikat muzdawij" merupakan pandangan khas milik Ibnu Rusyd. Pendapat ini sangat menarik perhatian pemikir-pemikir Barat. Yang dimaksud dengan ide hakikat ganda Ibnu Rusyd adalah "Memiliki arti bahwa Ibnu Rusyd ingin membedakan antara hakikat yang dibawa oleh agama dan hakikat yang dipahami oleh para filosof". Setelah menukilkan dan menjelaskan teori hakikat ganda milik Rusyd, penulis kemudian melakukan analisa kritis terhadapnya. Yang paling menarik dalam bab ini adalah usaha penulis untuk menerapkan teori ini dalam berbagai disiplin ilmu; dimulai dari hubungan antara agama dan negara sampai masalah pluralisme agama. Pada akhir dari bab ini, Dinani menukil ibarat Ibnu Rusyd dan menganalisanya dan menyimpulkan bahwa sebenarnya ide Rusyd tidak bermakna ada dua hakikat tapi ada dua tingkatan hakikat; batin dan lahir. Mereka yang meyakini bahwa hakikat ada dua, dan bukan dua tingkatan, tidak tepat dalam memahami ibarat Ibnu Rusyd.

Bab ketiga "Musuh para teolog telah menggantikan mereka". Pada bab ini, dapat ditemukan kajian Dinani tentang hubungan pemikiran keagamaan Ibnu Rusyd dan Ghazali. Di sini, penulis membawakan contoh-contoh pentakwilan dari Ibnu Rusyd. Setelah membawakan contoh-contoh itu, penulis kemudian melakukan analisa. Akhirnya, Dinani meyakini bahwa kritikan dan cibiran Ibnu Rusyd terhadap para teolog mencakup dirinya juga. Mengapa demikian? Dinani melihat bahwa Ibnu Rusyd dari sisi kefaqihan dan pemikirannya membuatnya lebih mirip ahli teolog.

Bab keempat membicarakan usaha Ibnu Rusyd untuk mengharmoniskan fiqih dan filsafat. Cara pandang ibnu Rusyd terhadap fiqih membawanya pada keyakinan akan terbukanya pintu ijtihad. Sayangnya, itu tidak diikuti dengan penjelasan yang lebih tentang substansi ijtihad dan bagaimana terbukanya pintu ijtihad itu.

Bab kelima "Tahafut at-Tahafut Ibnu Ruysd kritikan terhadap Ghazali ataukah kepada Ibnu Sina?". Bab ini menganalisa dua buku masyhur Ghazali dan Ibnu Rusyd. Di sela-sela itu, penulis membawakan pemikiran Ibnu Sina. Bab ini sangat menarik, karena penulis secara terperinci dan luas mengkaji kehidupan dan aktivitas sosial Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina. Informasi ini sangat menarik karena menyingkap banyak hubungan-hubungan yang selama ini tidak diperhatikan. Dan denganmembaca buku ini, semua itu dapat teraba dengan baik.

Bab keenam masih merupakan kelanjuta bahasan sebelumnya. Bab ini merupakan bagian paling sensasional. Karena membahas perbedaan antara Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina. Perbedaan mendasar pada masalah paling prinsip "hubungan antara mahiyah dan wujud". Penulis meyakini akan pentingnya masalah ini. Oleh karenanya, dengan sabar ia membahas masalah ini sejelas mungkin. Di akhir bab ini, penulis membawakan pandangan Ibnu Rusyd sambil juga membawakan pandangan pemikir-pemikir Islam dan kemudian menganalisanya.

Bab ketujuh "Ibnu Rusyd dan usaha menetapkan keberadaan Allah dengan dua dalil; Inayah dan Ikhtira'". Cara menetapkan keberadaan Allah lewat argumentasi imkan dan wujub tidak diterima oleh Ibnu Rusyd. Untuk itu, ia menawarkan argumentasi lain. Pertama, argumentasi Inayah yang berlandaskan kesiapan dunia untuk manusia dan tersedianya segala sesuatu untuk mannusia di dunia. Kedua, argumentasi Ikhtira', di mana manusia adalah mukhtara' (yang dibuat/dicipatakan) perlu akan mukhtari' (pencipta). Dalam bab ini, Dinani menganalisa pendapat ibnu Rusyd dengan membandingkannya dengan pendapat para filosof lainnya.

Bab kedelapan penulis membahas pengertian "Ghair Mutanahi bil Fi'l". Apakah pengertian ini kontradiksi atau tidak, dikaji secara terperinci. Pengertian istilah ini merupakan kajian yang dibahas baik dalam filsafat Yunani dan Islam. Istilah ini sangat erat kaitannya dengan teori fisika dan meta fisika. Di sini, Dinani membahasnya dari sudut pandang Ibnu Rusyd dan pemikir lainnya.

Bab kesembilan membahas tentang "Kulli Tabi'i". Pertanyaan penting dalam masalah ini adalah, "apakah kulli tabi'i ada secara faktual?" Masalah wujud kulli merupakan kajian paling penting dalam sejarah filsafat. Dinani, membawakan pandangan para filosof Paripatetik, khususnya Ibnu Rusyd, sekaligus bentuk penafsiran-penafsirannya atas masalah ini.

Bab kesepuluh "Ibnu Rusyd beribicara tentang Maqashid Syariah". Filosof paling pertama yang berbicara tentang masalah ini adalah Ibnu Rusyd. Ia menolak cara pandang Mu'tazilah dan Asya'irah dan membawakan pandangannya dalam masalah ini. Menurutnya, mengetahui maqashid syariah sangat membantu seorang teolog dan faqih.

Bab sebelas "Tanpa akal fa'al tidak ada yang dapat berpikir". Posisi Ibnu Rusyd dalam masalah akal dijelaskan panjang lebar. Dalam bab ini dijelaskan mengenai tahapan-tahapan pengetahuan mulai dari akal hayulani hingga akal fa'al. Dijelaskan juga mengenai kekhususan setiap tahapan dan bagaimana mendapatkan pengetahuan. Akal fa'al bagi para pensyarah Aristoteles merupakan bahasan yang penting, namun senantiasa buram dan ambigu. Itulah yang membuat Ibnu Rusyd membahas masalah ini juga. Di akhirnya dijelaskan pandangan Ibnu Rusyd tentang akal fa'al.

Bab kedua belas membahas kekhususan metode Ibnu Rusyd dalam tafsirannya terhadap filsafat Aristoteles. Bab ini masih merupakan kelanjutan kajian epistemologi filosof Andalusia ini dan hubungannya dengan disiplin lain seperti teologi.

Bab terakhir "Menurut Ibnu Rusyd, argumentasi rasional merupakan masalah batin". Pertemuan Ibnu Rusyd dengan Ibnu Arabi dan apa saja yang terjadi dengan keduanya dijelaskan di sini. Dari sini, penulis menuliskan kesamaan dan perbedaan antara dua pemikir besar ini. Yang satunya adalah tokoh Paripatetik dan satunya lagi tokoh tasawwuf. Selain itu, penulis juga membahas pikiran-pikiran lain Ibnu Rusyd.

Pentingnya buku ini karena ditulis oleh filosof tentang seorang filosof yang tidak begitu dikenal. Padahal, Ibnu Rusyd merupakan filosof penting Islam. Buku ini tidak hanya sekedar sejarah. Namun, sebagaimana tulisan lain profesor Dinani "Ma Jara-ye Fekre Falsafi Dar Jahan-e Eslam", buku ini dipenuhi dengan analisa mendalam dan menarik petualangan akal dalam pemikiran dan hati kaum muslimin. Mungkin itulah yang mendasari penulis untuk tidak memberikan sebuah tempat khusus untuk menuliskan sejarah hidup Ibnu Rusyd secara lengkap. Namun, di sela-sela pembahasannya setiap kali perlu menjelaskan kehidupan Ibnu Rusyd itu dilakukannya.

Penjelasan global seperti ini tidak dapat menjelaskan substansi buku ini. Sudah pasti bahwa tidak ada model pengetahuan apapun yang dapat menggantikan membaca. Bagi yang ingin membaca buku ini disyaratkan sedikit banyak telah mengetahui tentang filsafat Islam dan sejarahnya.

Buku ini dapat menjadi jembatan untuk lebih mengenal siapa Ibnu Rusyd, sekaligus menghidupkan kembali sisi-sisi yang selama ini tersembunyi dari filsafat dan budaya Islam. Kecemerlangan filsafat Islam membutuhkan karya-karya seperti ini.

Tentang profesor Ghulam Hossein Ebrahimi Dinani

Doktor Ghulam Hossein Ebrahim Dinani lahir pada tahun 1313 HS atau kira-kira 72 tahun lalu di desa Dinan bagian dari propinsi Isfahan. Di tempat kelahirannya ia menyelesaikan SD nya. Pada waktu itu, keinginannya keras sekali untuk belajar agama. Ini mengantarkannya belajar fiqih, usul fiqih, nahwu, saraf, dan ilmu-ilmu agama lainnya. Ia belajar pada Syaikh Muhammad Ali Habib Abadi dan Syaikh Abbas Ali Habib Abadi.

Beliau pada tahun pertama dari dekade 1330, 55 tahun lalu, pergi ke Qom. Di sana, secara serius ia melanjutkan pendidikannya. Di Qom, ia belajar Syarah Lum'ah, Rasail, Makasib. Begitu juga ia mengikuti bahts kharijnya di sana. Ia belajar pada Syaikh Abdul Javad Sedehi, Sulthani Thaba'taba'i, Mujahidi, Imam Khomeini, Sayyid Muhammad Damad, Ayatullah Boroujerdi dan lain-lain. Pada saat yang sama, ia juga belajar Asfar Mulla Shadra dan Syifa Ibnu Sina kepada Allamah Thaba'thaba'i. Daya tarik pelajaran Allamah membuat profesor Dinani mengikuti kelas khususnya. Dan dengan izin dari Allamah ia mengikutinya.

Pada tahun 1340, 40 tahun lalu, ia berhijrah menuju Teheran. Ia mengikuti ujian dan berhasil mengikuti kuliah di fakultas ushuluddin universitas Teheran. Di fakultas ini, ia bertemu dengan pemikir-pemikir seperti doktor Javad Muslih, Malekshahi dan Rashid memberikan mata kuliah. Pada masa-masa itu, ia diterima oleh kementrian pendidikan sebagai pegawai negeri.

Pada tahun 1350, berdasarkan usulan Syahid Murtadha Muthahhari ia mengikuti ujian untuk menjadi asisten dosen di universitas Ferdousi Mashad. Ia di dua bidang; sejarah agama dan filsafat meraih urutan pertama. Ia kemudian memilih untuk lebih banyak aktif di bagian filsafat. Pada saat yang sama ia menyelesaikan program doktornya di Teheran. Akhirnya beliau secara resmi di terima di bagian filsafat universitas Ferdousi Mashad.

Doktor Dinani pada tahun 1361 dipindahkan ke Teheran masih dalam kelompok yang sama, filsafat. Semenjak itu, ia menjadi anggota tim studi filsafat universitas Teheran. Selain di bidang filsafat punya pandangan-pandangan khusus, ia juga seorang pemikir dalam bidang irfan dan fiqih. Dan dalam dua bidang ini, ia mempunyai banyak tulisan.

Karya-karya doktor Dinani antara lain:

1. Qavaed Kulli Falsafi Dar Falsafeye Eslam (1357-1360)

2. Wujud-e Rabet va Mustaqel Dar Falsafeye Eslami (1362)

3. Shu'a-e Andishe va Shuhud dan Dar Falsafe-ye Suhrawardi (1364)

4. Manteq va Marefat Dar Nazar-e Ghazali (1370)

5. Ma'ad Az Didgah-e Hakim Mudarres Zanuzi (1375)

6. Asma va Sefat-e Haq Ta'ala (1375)

7. Niyayesh-e Filsuf (1377)

8. Ma Jara-ye Fekre Falsafi Dar Jahan-e Eslam (1376-1379)[Saleh L]

Sumber: www.roonamaee.com

Senin, 12 Februari 2007

Foto kenangan 28 tahun kemenangan Revolusi islam Iran

Foto kenangan 28 tahun kemenangan Revolusi islam Iran


Masih belum pupus dalam ingatan

Siap bela negara


Bush sekecil itu?


Tetap setia dengan revolusi


Kalau wanita tentengannya Rice






Minggu, 11 Februari 2007

Petualangan Israel; dalam sekuel mengais identitas di bawah Masjidul Aqsha


Petualangan Israel; dalam sekuel mengais identitas di bawah Masjidul Aqsha

Saleh Lapadi

Israel adalah bangsa yang dibangun dari sebuah fantasi besar bernama Israel Raya. Mereka mengakui tanah air mereka terbentang dari sungai Furat sampai Afrika. Pengakuan ini hanya didukung oleh fakta-fakta absurd dari Talmud yang ditafsirkan oleh mereka. Tidak itu saja, kehadiran mereka di tanah Palestina dan membangun negara Israel pun berkat isu kontroversial holocoust.

Mereka memprovokasi dunia untuk menerima bahwa holocoust adalah sejarah paling jelas dan tidak terbantahkan. Itulah mengapa mereka giat di setiap negara yang ada di dunia untuk memantau siapa saja yang mencoba meneliti kembali kasus kontroversial tersebut dengan tuduhan anti semit. Telah banyak ilmuwan yang harus mendekam dalam penjara karena mencoba ingin membaca kembali sejarah holocoust.

Tidak cukup dengan itu, mereka dengan bantuan Amerika berhasil mengusulkannya ke PBB dan diterima. Saat ini, siapa saja yang mencoba mengorek kembali masalah holocoust artinya harus siap menghadapi badan dunia PBB. Israel dan Amerika cepat-cepat menggolkan itu setelah presiden Ahmadi Nejad dengan lontaran pertanyaan-pertanyaan cerdas. “Bila memang holocoust pernah terjadi, mengapa rakyat Palestina yang harus menjadi sasaran balas dendam?” Apa salah rakyat Palestina? Mereka tidak pernah ikut memasukkan orang-orang Yahudi ke dalam kamar-kamar gas. Mereka tidak pernah ikut membantai orang Yahudi.

Alasan pendirian negara Israel sendiri berdasarkan fakta sejarah kontroversial yang tidak punya bukti. Ahmadi Nejad malah kemudian menantang, “Bila memang benar ada holocoust, beri kesempatan para ilmuwan melakukan penelitian!” Tentu ini tidak dapat diterima oleh Israel. Itulah mengapa masalah ini harus ditetapkan oleh PBB.

Israel didirikan dan ditopang oleh fakta yang absurd kalau tidak dikatakan bohong. Lalu?

Yahudi Israel perlu mencari identitas lain untuk menunjukkan bahwa mereka pernah eksis dalam sejarah. Tidak hanya dalam fakta-fakta absurd Talmud dan holocoust. Itulah mengapa mereka kemudian membuat sebuah dongeng lain tentang rumah peribadatan Sulaiman. Mereka mengklaim bahwa di bawah Masjidul Aqsha terdapat bekas peninggalan sejarah mereka yang terkait dengan rumah peribadatan Sulaiman. Untuk membuktikan itu, mereka lalu mulai menggali terowongan di bawah Masjidul Aqsha. Terowongan telah dibuat, tapi fakta keberadaan rumah peribadatan Sulaiman belum ditemukan juga.

Kebohongan demi kebohongan terus dibangun untuk menetapkan eksistensi mereka. Kebohongan tidak akan pernah kekal. Suatu saat semua ini bakal terungkap. Namun, menarik untuk melihat statemen Sayyid Hasan Nasrullah bahwa “Israel lebih lemah dari sarang labah-labah”. Karena akidah dan keyakinan yang dibangun di atas kebohongan tidak punya kekuatan. Dengan datangnya sebuah ujian, maka segalanya akan lenyap. Sarang labah-labah masih lebih kuat karena ia berpijak pada sesuatu yang jelas dan pasti. Berbeda dengan Israel yang berpijak dari ketiadaan.

Sebenarnya, usaha pencarian identitas ini tidak hanya dilakukan di tanah Palestina. Ketika Bush menginvasi Irak dan, berkat bantuan rakyat Irak, ia berhasil menggulingkan Sadam Husein, para peneliti dan pendeta Israel segera menuju Irak. Mereka berusaha untuk menemukan peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada kaitannya dengan mereka. Kehadiran mereka bisa dikatakan sederhana, tapi memuat makna yang dalam. Pencarian identitas sebuah bangsa.

Mereka datang ke Irak dan menetap di daerah Hilla. Tempat di mana pasukan Polandia bertugas di sana. Para peneliti yang sibuk menggali peninggalan bersejarah di bawah pengawasan empat orang pendeta Yahudi. Tentunya mereka tidak sendiri. Karena di samping mereka berseliweran para pedagang dan pelancong sebagai mata rantai semua ini. Tentunya, tanpa melupakan kehadiran Mossad. Intelijen Israel ini mengorganisir segalanya. Mereka berharap dapat menemukan sesuatu yang terkait dengan sejarah Yahudi di masa Hammurabi. Dan pasukan Polandia sebagai tameng pengaman mereka.

Pada awal-awal kedatangan orang-orang Yahudi Israel ke Irak dan membeli tanah-tanah orang Irak, ulama Syi’ah telah mengingatkan masyarakat. Tujuan mereka membeli bukan untuk ditinggali begitu saja. Tapi ada maksud-maksud lain di balik itu.

Jaringan mereka telah melakukan pencurian kekayaan nasional Irak. Tidak dapat ditaksir seberapa besar kerugian pemerintah Irak. Belum lagi yang dicuri dan dibawa ke Amerika. Mereka tidak hanya melakukan penggalian ilegal, tapi juga menjarahi museum-museum Irak.

Mereka sangat berharap menemukan data-data yang berhubungan dengan Yahudi. Karena slogan Israel Raya bakal memiliki pijakan historis. Hal yang selama ini mereka cari. Mereka ingin agar ada fakta sejarah yang mendukung mereka. Selama ini, yang ada hanyalah imajinasi mereka yang kemudian memaksa mereka menafsirkan Talmud seperti itu.

Kembali pada masalah Palestina. Semua peperangan yang dilakukan antara Israel dan Palestina. Pembantaian yang dilakukan oleh Israel. Perjuangan rakyat Palestina untuk membela tanah airnya. Dan segala peristiwa yang terjadi di tanah Palestina pendudukan belum mampu membuat masyarakat dunia percaya dengan klaim Israel selama ini. Mereka kehilangan identitas. Frustrasi menghantui mereka.

Kekalahan atas Hizbullah semakin membuat mereka tidak punya cara untuk menunjukkan identitas dan eksistensinya. Israel semakin terpojokkan. Lalu tamparan itu datang dari seorang presiden sederhana namun bersahaja bernama Ahmadi Nejad. Ia menjadi simbol kebebasan orang untuk mempertanyakan keaslian kasus holocoust. Logikanya sederhana tapi kokoh, menohok Israel.

Iran menjadi pusat perlawanan terhadap Israel. Selain masyarakat dunia, mulai banyak pemimpin-pemimpin dunia yang berani buka suara terhadap Israel. Yang paling memalukan adalah ketika Hamas memenangkan pemilihan parlemen di Palestina. Ismail Haniyah terpilih menjadi perdana menteri. Tenyata, pemerintahannya tidak mengakui Israel sebagai negara. Bila sebuah negara besar, seperti Iran, tidak mengakui keberadaan Israel, maka hal itu masih dapat ditolerir. Namun, negara kecil yang setiap harinya diberondong dengan senapan berpeluru uranium ringan berani menantangnya. Amerika saja bak kerbau dicocok hidung ketika berhadapan dengan Israel.

Penentangan terhadap pemerintah Haniyah harus dilakukan. Amerika dan negara-negara Eropa sepakat menghentikan bantuannya. Haniyah dalam salah satu wawancaranya menyebutkan bahwa kami (baca: bangsa Palestina) diperlakukan lebih buruk dari Irak. Sekalipun diembargo, Irak masih diberi kesempatan untuk menjual minyaknya untuk pangan. Kami diembargo setiap hari oleh Israel.

Israel dan sekutunya harus melakukan itu. Karena sikap pemerintah Haniyah artinya tidak mengakui identitas Israel. Pemerintah Israel mengalami krisis identitas yang sangat parah. Karena sikap pemerintah Haniyah memukul tepat di urat leher Israel yang membuat mereka menggelepar-gelepar. Dengan segala cara mereka berusaha menyelamatkan Israel dari sekarat.

Abu Mozen lantas dipanggil ke Amerika, tentunya bukan untuk melancong. Ia dijanjikan bantuan. Dalam konflik senjata antara Hamas dan Fatah, pemerintah sempat menahan sebuah truk yang berisi senjata made ini Amerika yang diselundupkan dari Mesir. Ditengarai oleh pemerintah masih ada beberapa truk lainnya yang lolos.

Dalam konflik Hamas dan Fatah, raja Abdullah muncul bak penyelamat. Rupanya ia ingin mencalonkan dirinya sebagai penerima hadiah nobel perdamaian. Bila melihat urutan masalah di atas, maka sikap raja Abdullah mengkhianati rakyat Palestina. Rakyat Palestina memberikan hak suaranya kepada Hamas. Sebagai pemerintah yang sah, Fatah harus menghormati kebijakan Hamas. Dan raja Abdullah seharusnya berpihak kepada Hamas. Sikap raja Abdullah dengan mengajak Fatah dan Hamas ke negaranya untuk berunding kiranya perlu menjadi pertanyaan. Karena kejadian perusakan Masjidul Aqsha berurutan dengan kunjungan Simon Peres ke Qatar, lagi-lagi Qatar mengkhianati perjuangan bangsa Palestina. Ia melakukan pembicaraan tertutup dengan jaringan media Aljazeera. Setelah itu, Fatah dan Hamas diajak berunding oleh raja Abdullah. Perundingan itu jelas memakan waktu. Dan pada kesempatan itulah Israel melakukan aksinya.

Mengapa Israel memilih hari selasa, tanggal 18 Muharram hari selasa Minggu kemari untuk melakukan aksinya secara terang-terangan merusak Masjidul Aqsha? Jawabannya kembali pada usaha untuk mencari identitas diri. Pada tanggal itu adalah hari di mana Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengganti arah kiblat. Pada waktu salat, Nabi menghadap ke Baitul Maqdis, Masjidul Aqsha. Allah memerintahkan kepada beliau untuk mengalihkan kiblatnya menghadap Masjidul Haram.

Menurut orang-orang Yahudi, itu menunjukkan bahwa Masjidul Aqsha bukan milik kaum muslimin. Ada hal lain yang membuat kaum muslimin diperintahkan balik menghadap Ka’bah. Mereka melakukan aksinya tepat ketika 1400 tahun yang lalu, kaum muslimin membalikkan wajahnya dari Masjidul Aqsha menghadap Masjidul Haram. Hari itu dianggap sebagai satu petunjuk dalam mewujudkan dan memuaskan fantasi pencarian identitas yang selama ini mereka dambakan.

Ini memberikan kesempatan kepada kaum muslimin untuk mengintrospeksi dirinya. Jangan sampai perbuatan dan perilaku memberikan kesempatan kepada Israel untuk mendapatkan alasan lagi, seperti janji Talmud dan holocoust, untuk melakukan kezaliman yang lebih. Dan itu hanya dapat diraih dengan persatuan kaum muslimin.

Qom, 11 Februari 2007