Jumat, 26 Januari 2007

Raja Abdullah; Terima kasih anda telah menghina Asyura!


Raja Abdullah; Terima kasih anda telah menghina Asyura!

Abdullah bin Abdul Aziz, raja Arab Saudi bersama para petinggi negara menghadiri sebuah acara. Dalam acara itu, sang penceramah melecehkan Asyura. Hal ini membuat orang-orang syi’ah Arab Saudi tidak senang.

Acara tersebut diadakan di istana kerajaan Al-Yamamah. Acaranya ditayangkan langsung oleh chanel 1 TV Arab Saudi. Pertemuan ini dihadiri antara lain oleh raja Abdullah, mufti besar Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah Ali as-Syeikh, pemimpin bidang penelitian ilmiah dan fatwa Arab Saudi, Syeikh saleh bin Muhammad al-Lahidan, ketua syura pengadilan tinggi dan seluruh ulama Wahabi. Penceramah pada acara itu adalah seorang ulama muda. Isinya ceramahnya mempertanyakan hakikat dan peristiwa Asyura. Katanya: “Sekarang kita berada di ambang hari Asyura, di bulan Muharam. Kita harus mengetahui hakikat mengenai hari ini. Kita harus berusaha menghapus kebohongan-kebohongan hari yang menyenangkan ini”.

Ia menyebutkan bahwa puasa pada hari Tasu’a (9 Muharam) dan hari ke sebelas Muharam hukumnya sunah. Ditambahkan olehnya: “barang siapa yang berpuasa pada hari-hari tersebut maka ia telah mengikuti Rasulullah saw dan Nabi Musa as. Hari Asyura adalah hari di mana Allah menenggelamkan Firaun di sungai Nil dan menyelamatkan Nabi Musa as dan para pengikutnya”.

Tanpa menyinggung syahadah Imam Husein as dan para sahabatnya di hari Asyura, penceramah membacakan beberapa ayat Al-Qur’an dan tafsirannya, ia menambahkan bahwa hari ini adalah hari besar, hari terjadinya peristiwa-peristiwa besar yang menggembirakan. Semua orang perlu tahu dan menjadikan hari ini sebagai hari kesenangan dan berpuasa. Ia bahkan mengajak hadirin untuk mempersiapkan dirinya mulai hari ini untuk berpesta pora di hari Asyura. Karena ungkapan ini, raja Abdullah berdiri menyambut penceramah dan mengucapkan terima kasih dan menciumnya.

Penayangan pidato semacam ini, di hari-hari ‘aza (kesedihan) Imam Husein as. melalu chanel 1 TV Saudi menyebabkan kemarahan orang-orang Syi’ah negara ini. Orang-orang Syi’ah yang mayoritas tinggal di bagian timur Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi melarang untuk mengadakan acara untuk memperingati pembantaian Imam Husein as dan keluarga beserta rombongannya di hari Asyura. Segala bentuk ‘aza dan pembacaan ziarah Asyura di hari Asyura dilarang keras.

Pada zaman jahiliah, puasa hari Asyura menjadi perhatian. Orang-orang Yahudi berpuasa di hari itu dan mengadakan pesta pora. Hari Asyura disebut sebagai “Hari Raya Kipur”.

Sementara orang-orang Syi’ah meyakini bahwa hari Asyura adalah hari di mana Bani Umayyah bersenang-senang. Mereka bergembira karena berhasil membunuh cucu Nabi Muhammad saw. Mereka bergembira karena berhasil melecehkan kehormatan Ahlul Bait Nabi as. [Emi Ms]

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Waktu pertama kali Raja ini diangkat, terus terang saya cukup berharap banyak kebijakan2nya jauh lebih baik ketimbang pendahulunya (Fahd). Ketika baru diangkat kabarnya dia mengundang ulama/pejabat Iran untuk belajar/studi banding. Juga ada beberapa tradisi yg dia buang dari pendahulunya. Tapi belakangan2 kok ternyata sami mawon ya. Hizbullah dia kecam. Di Iraq, dia mau backup sunni dan melawan syiah. Tentang Asyura, ternyata menunjukkan kedengkiannya. Semoga cepat insyaf ya.

Saleh Lapadi mengatakan...

Salam,
Memang benar bahwa raja Abdullah lebih moderat. Namun ia tidak dapat keluar dari tekanan ulama Wahabi. Sejauh mana ia dapat keluar dari tekanan itu akan semakin baik. Walaupun semenjak ia menjadi raja, sebenarnya mulai terlihat ketegangan hubungannya dengan ulama Wahabi. Hubungan baiknya dengan Teheran memang membuat ulama Wahabi naik pitam.