Jumat, 26 Januari 2007

Anda Bertanya Kami Menjawab


Filsafat memperingati Imam Husein as
dan perbedaannya dengan Imam yang lain
Saleh Lapadi

Soal: Jelaskan filsafat memperingati peristiwa pembantaian Imam Husein as dan perbedaan apa saja yang ada dengan memperingati pembunuhan Imam yang lain?

Jawab: Filsafat memperingati meninggal dan syahadahnya para Imam tidak berbeda dengan hikmah yang ada ketika memperingati syahadah Imam Husein as. Bila ada perbedaan, maka perbedaan itu tidak pada substansinya tapi kembali pada kualitas. Karena setiap Imam diutus dengan tujuan yang sama. Kewajiban mereka juga tidak berbeda. Yang membuat perbedaan dalam sikap mereka bukan mereka tapi kondisi yang ada. Ketika merespons kondisi mereka harus melakukan evaluasi untuk menentukan tindakan apa yang harus dilakukan. Tindakan yang tentunya, selain tidak kontra produktif, harus mampu menjelaskan dan menjaga agama.

Dengan memahami bahwa perbedaan dalam sikap Imam dengan lainnya tidak pada substansi, tapi karena kondisi yang berbeda, maka setidak-tidaknya ada dua hal yang dapat membedakan hikmah dan filsafat memperingati peristiwa Karbala Imam Husein as dibanding dengan para Imam yang lain. Hal ini tentunya dengan melihat bahwa hikmah dan filsafat memperingati peristiwa syahadah para Imam untuk membentuk manusia. Membentuk manusia menjadi khalifah Allah di muka bumi. Membentuk manusia dalam segala dimensinya.

1. Luasnya dimensi
Perbedaan ketika seorang memperingati peristiwa syahadah Imam Husein as bila dibandingkan dengan memperingati syahadah salah satu dari Imam yang lain, akan ditemukan bahwa dimensi yang dimiliki lebih luas. Keluasan dimensi yang dimiliki dalam memperingati peristiwa Karbala dapat dibuktikan dengan kompleksnya variabel yang mendukung. Imam Husein as ketika menjemput kesahidannya tidak sendiri. Beliau bersama sahabat-sahabat, anak dan familinya ikut menjadi korban di ladang pembantaian Karbala. Bahkan tidak itu saja, para wanita dan anak-anak, sekalipun tidak menemui kematian pada waktu itu, tapi memainkan peran penting baik sebelum, sedang dan setelah peristiwa Karbala.

Tidak saja unsur-unsur pendukung Imam Husein as beragam, tapi juga kekejaman yang dilakukan oleh pasukan Yazid bin Muawiyah yang di bawah komando Umar bin Saad memainkan peranan penting dalam menganalisa luasnya spektrum kekejaman mereka. Air sebagai sumber kehidupan dalam peristiwa Karbala dipakai sebagai alat pembunuh. Ini semua faktor-faktor yang menunjukkan bahwa dimensi filsafat dan hikmah memperingati peristiwa Asyura dan syahadah Imam Husein as lebih luas dari filsafat dan hikmah memperingati syahadah Imam yang lain.

2. Lebih cepat
Pengaruh dan dampak memperingati acara dan peristiwa pembantaian Imam Husein as dalam membentuk pribadi manusia muslim lebih cepat dibandingkan dengan pengaruh yang bakal diterima oleh seseorang yang memperingati syahadah Imam yang lain. Dalam riwayat disebutkan: “Seluruh Imam as bak perahu hidayah dan keselamatan. Namun, perahu penyelamat Imam Husein as lebih cepat dari yang lain.

Para Imam as memiliki tugas dan kewajiban yang sama. Memberi petunjuk jalan keselamatan kepada umat manusia. Dalam usaha memberi petunjuk, setiap Imam sesuai dengan kondisi zamannya memilih metode yang terbaik untuk menunjuki umat manusia. Imam Ali as dengan ketegasannya dalam menegakkan keadilan, harus meneguk cawan syahadah karena keadilannya. Imam Hasan as dengan keberaniannya di medan pertempuran harus menerima gencatan senjata dan terpaksa berunding dengan Muawiyah. Setiap Imam memilih jalannya menunjuki umat manusia. Dalam kehidupannya mereka memilih cara apa yang terbaik. Ketika menghadapi maut pun mereka memilih cara mati yang paling tepat untuk menunjuki manusia ke jalan petunjuk. Imam Husein as memilih mendapat kehormatan menemui kematiannya di padang tandus Karbala.

Imam Husein as dan rombongannya mendemonstrasikan dengan sempurna nilai-nilai. Ibadah yang dilakukan bahkan sampai menjelang ajal. Pengorbanan demi menolong orang lain yang ditunjukkan oleh Abbas saudaranya untuk mengambil air yang berujung pada kesahidan setelah terlebih dahulu menyaksikan kedua tangannya terpisah dari badan. Keberanian yang ditunjukkan oleh seorang remaja, Ali Akbar. Tanpa takut ia merangsek maju menghadapi pasukan musuh yang bersenjata lengkap. Ketika keletihan karena kehausan, ia kembali menghadap ayahnya agar diberi seteguk air. Ketika Imam Husein as mengatakan bahwa sebentar lagi kakeknya akan menuangkan air langsung dari tangannya, dengan sigap ia kembali maju dengan gagahnya berperang menghadapi musuh.

Nilai-nilai seperti tawakal, sabar, amar makruf dan nahi mungkar, tidak menerima pemimpin zalim seperti Yazid, kemuliaan dan ketenangan menghadapi kematian merupakan bagian kecil dari perjuangan yang mereka tunjukkan. Kelompok kecil ini berhasil mengajarkan bagaimana seorang disebut manusia yang bebas.

Setidak-tidaknya ada tiga pelajaran besar yang dapat diambil dari peristiwa Asyura:
1.Protes dan tidak tunduk atas kezaliman.
2.Faktor penguat sikap penegakan keadilan.
3.Persiapan dan pembentukan masyarakat Syi’ah menemui kemenangan dan membela kebenaran.

Pantang hina!

Qom, 26 Januari 2007

Tidak ada komentar: